Freescale Cup Japan 2012

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

 

Pada semester pertama lalu, aku bersama dua orang teman labku  memutuskan untuk membentuk satu tim yang akan berpartisipasi ke lomba freescale cup japan. Lomba freescale cup sendiri sudah dilaksanakan di kurang lebih 21 negara di dunia, seperti USA, China, India, Malaysia, Brazil, Meksiko, Korea, dll. Untuk pelaksanakaan di Jepang sendiri, tahun ini adalah untuk pertama kalinya.

Setelah mendaftarkan diri ke freescale, kami dikirimkan satu kit mini car yang nantinya akan digunakan untuk lomba. Persiapan sendiri baru benar-benar dimulai sekitar bulan Juli, dimana semester pertama akan segera berakhir. 

Setelah merakit mini car, kemudian memeriksanya lewat sample code yang diberikan, mulailah kami merancang strategi untuk bisa membuat mini car ini bergerak cepat mengikuti line track. Tugas kami adalah menulis program untuk membuat camera yang ditempelkan di mini car ini bisa membaca line track, dan membuat mini car ini bergerak sesuai dengan arah line track yang dibaca. Sedangkan track perlombaan sendiri dirahasiakan sampai dengan hari-H perlombaan.

Kami bertiga membagi tugas, dan saya sendiri mendapatkan tugas untuk membuat program kontrol untuk servo. Kemampuan membaca kamera yang lebih cepat daripada gerak servo menjadi tantangan tersendiri dalam perlombaan ini.

Tak terasa bulan Agustus selesai, dan kami mulai untuk membuat mini car ini bergerak dengan kecepatan yang lebih cepat lagi. Semakin cepat mini car ini bergerak, maka peluang untuk keluar track semakin besar, terutama di tikungan tajam setelah track lurus.

Pada tanggal 18 September dilaksanakan ujicoba oleh pihak penyelenggara, dari 5 tim yang ikut ujicoba saat itu, tim kami mencatat waktu paling cepat. Namun kami masih punya satu PR yaitu untuk membuat mini car ini berhenti sendiri ketika melihat garis gol.

Tak terasa, hari-H perlombaan sudah datang, penyisihan sendiri dilaksanakan pada tanggal 29 September lalu di Tokyo, yang diikuti oleh 15 tim dari berbagai universitas dan college di Jepang. Untuk babak penyisihan, dilakukan dalam dua putaran, dan akan diambil waktu terbaik. Alhamdulillah, walau sampai pada babak penyisihan kami tidak berhasil membuat mini car berhenti ketika melihat garis gol, tim kami tetap menduduki catatan tercepat yaitu 17.59 detik (waktu aslinya 15.59 detik karena tidak berhenti sendiri kena penalti 2 detik)

7 tim yang berhasil menyelesaikan 1 lap, akan maju ke babak final yang akan diselenggarakan pada tanggal 22 Oktober mendatang. Mohon doa dari rekan-rekan semua, insyaallah kalau bisa juara pertama di final nanti, akan mewakili Jepang untuk maju di perlombaan freescale cup tingkat dunia di Amerika tahun depan.

Image

Advertisements

Sebuah Catatan Lama

Hidup adalah belajar.
Belajar adalah perubahan.
Mustahil, manusia yang hidup tidak belajar,
karena setiap hari semua inderanya akan berhubungan dengan sesuatu,
karena itu pasti otaknya akan mencatat dan membuat hubungan itu.
Hanya ada 2 belajar dalam dunia ini,
belajar pada kebaikan,
atau belajar pada keburukan,
belajar pada kebaikan akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik,
belajar pada keburukan akan membwa perubahan ke arah yang lebih buruk.
Pastikan diri kita belajar pada kebaikan, sehingga suatu hari nanti, grafik kehidupan kita menjadi asimtot dari garis kesempurnaan.

4 Januari 2007
(dari salah satu kamar di asrama PPSDMS Reg.1)

電車

私たちは”時間”っていう電車に乗っています。
この電車はずっと走っています。
わずか1秒でも止まったことがないです。
でもいつか止まるようになります。
その時はもう動かなくなります。
もう終わりです。
この電車の運転手は私たちです。
私たちそれぞれ自分の電車に乗って運転しています。
この電車はどこに行くのか私たち運転手として決めます。
この電車はとっても素晴らしいです。
どこに動かしても線路が自動的に作ります。
私たちはこの電車に乗ってどこにも行けますが、
一つ場所で回ってることもできます。
全て私たちが決めます。
だから周りを見ると、遠くまで行く人もいればどこにも行かない人もいます。
私たちはどんな運転手なのか?
自分の電車はどこまで行けるのか?
自分で決めるべきです。
ただ、いつまでこの電車が動けるのか私たちは全然わかりません。
だから今動いているうちに私たちの行きたい場所まで走りましょう。

Pencarian Beasiswa

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Setelah kurang lebih enam bulan tidak posting, saya mau mulai nulis lagi. Tulisan kali ini tentang pengalaman saya tahun lalu mencari beasiswa untuk melanjutkan kuliah program master di Jepang. Alhamdulillah saya sudah dinyatakan lulus di The University of Tokyo pada awal September tahun lalu, jadi saya punya waktu kurang lebih enam bulan untuk fokus mencari beasiswa.

Untuk teman-teman yang akan pindah kampus ketika melanjutkan program master nanti, saran saya sesegera mungkin berhubungan dengan pihak yang mengurusi mahasiswa asing di universitas tersebut, untuk teman-teman yang tidak pindah, sering-seringlah mengunjungi penanggung jawab beasiswa untuk mahasiswa asing, supaya bisa segera mendapatkan informasi jika ada pendaftaran beasiswa. Tahun lalu saya cukup telat menghubungi bagian mahasiswa asing di The University of Tokyo, akibatnya ada beberapa beasiswa yang tidak sempat mendaftar.

Untuk pencarian beasiswa, yang paling penting adalah mendapatkan informasi sebanyak mungkin, dan mendaftar sebanyak mungkin. Karena kita tidak tahu dimana rezeki kita, oleh karenanya kita usaha dulu untuk mendaftar di mana saja yang kita mungkin untuk mendaftar. Persyaratan pendaftaran di tiap-tiap pemberi beasiswa berbeda-beda, pada umumnya mereka meminta CV , transkrip nilai, rencana penelitian. Ada beberapa foundation juga yang meminta kita untuk membuat essai tentang Jepang, sertifikat JLPT, serta meminta kita menyertakan penghargaan-penghargaan yang pernah kita raih jika ada.

Untuk rencana penelitian, saya menulis sama persis dengan rencana penelitian yang saya kirim ketika ujian masuk program master di The University of Tokyo. Saya meminta prof saya saat itu untuk mengecek jikalau ada bahasa Jepang yang kurang baik, ataupun ada bagian yang secara keilmuan kurang tepat. Untuk berkas-berkas lain yang bertuliskan bahasa Jepang, saya usahakan untuk meminta guru bahasa Jepang saya mengeceknya terlebih dahulu sebelum dikirim.  Semua aplikasi beasiswa saya tulis dalam bahasa Jepang, pertama-tama dengan pensil, kemudian setelah itu baru ditebalkan dengan pulpen.

Untuk rekan-rekan yang dulu pernah sekolah di college atau sekolah bahasa Jepang yang berbeda kota dengan tempat sekarang belajar, sesegera mungkin untuk meminta transkrip nilai(成績証明書) dengan jumlah yang banyak, karena sewaktu-waktu kita membutuhkannya untuk mengirim aplikasi pendaftaran beasiswa.

Beberapa tips yang saya dapatkan dari senior adalah, untuk menuliskan sesuatu yang berbeda dari orang kebanyakan, lalu saya berusaha menuliskan secara jujur apa yang ada di dalam kepala saya, serta impian-impian dan rencana hidup saya.

Saya mendaftar kurang lebih 5 beasiswa diantaranya, Tokyu, Honjo, Ito, Nitori, dan Iwatani. Dari 5 foundation tersebut, saya berhasil lolos seleksi berkas di dua tempat, yaitu Tokyu dan Nitori. Kedua foundation tersebut mengadakan wawancara sebanyak dua kali.

Kalau Tokyu, wawancara pertamanya dilakukan perorangan, pewawancaranya dua orang, pertanyaannya seputar tentang penelitian kita, di sini dibutuhkan kemampuan untuk menjelaskan penelitian kita supaya bisa dimengerti oleh kedua pewawancara. Kemudian ditanyakan juga seputar rencana kita, setelah lulus master mau kerja atau lanjut ke program doktoral, dan ditanyakan juga apa saja aktivitas kita diluar sekolah. Di sini saya bersyukur karena selama ini aktif di berbagai kegiatan, sehingga bisa menceritakan banyak hal.  Untuk wawancara yang kedua kalinya, dilakukan secara group, pewawancaranya ada 4 orang, ditanyakan mengenai penelitian, dan tentang negara kita sendiri. Pertanyaannya cukup sedikit karena secara group, terkadang pertanyaan untuk salah satu orang lebih banyak daripada yang lainnya.

Sedangkan untuk Nitori, wawancara pertama dilakukan secara group, dan wawancara kedua dilakukan secara perorangan. Untuk wawancara pertama ditanyakan perihal masalah keuangan kita sekarang, apakah biaya sendiri, atau mendapatkan beasiswa, kemudian ditanyakan juga tentang rencana kita setelah lulus master, dan apakah ingin bekerja di Jepang atau tidak. Sedangkan untuk wawancara yang kedua, ditanyakan perihal penelitian, serta rencana hidup setelah lulus, dan juga ditanyakan tentang perusahaan nitori itu sendiri.

Alhamdulillah saya diterima oleh kedua foundation tersebut, dan akhirnya saya memutuskan untuk memilih Tokyu, selain karena jumlah beasiswanya, tapi saya juga sangat tertarik dengan kegiatan-kegiatannya.

Untuk teman-teman yang sedang mencari beasiswa mudah-mudahan sukses.

Wassalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Mohon Doa & Restu

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. 30:21)

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, serta shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Melalui posting-an ini izinkan kami untuk menyampaikan undangan Pernikahan kami,

Syafril Bandara dan Yatabe Yuri

Yang insyaallah akan dilaksanakan pada,

Hari/Tanggal      : Sabtu / 17 Maret 2012
Waktu                    : 15.30 – 16.30 JST
Tempat                  : The Cultural Center Hall, Masjid Jami’ Tokyo

Akad Nikah insyaallah akan dilaksanakan pada,

Hari/Tanggal      : Sabtu / 17 Maret 2012
Waktu                    : Ba’da Dzuhur
Tempat                 : Masjid Jami’ Tokyo

Kami mohon doa dari seluruh rekan-rekan,
dan akan lebih lengkap lagi kebahagiaan kami jika rekan-rekan bisa menghadiri acara kami tersebut.

Wassalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Syafril Bandara

Selamat tinggal mbah.

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Mbah, itulah panggilan sayang kami kepada nenek dari Ibu, dia satu-satunya orang tua ibu dan bapak saya yang masih hidup ketika saya lahir. Tak ada yang tahu persis kapan mbah lahir, tapi yang pasti dia sudah hidup sejak zaman kolonial Belanda. Cerita-cerita Indonesia di zaman kolonial Belanda dan Jepang, seringkali kudengar dari beliau, bagaimana keadaan dan susahnya rakyat Indonesia pada zaman itu.

Keadaan Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan itu, membuat mbah tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah formal, sehingga mbah tidak bisa baca dan tulis. Namun, kemampuannya membuat kue-kue tradisional Indonesia tak perlu diragukan. Dengan kedua tangannya mbah seringkali membuat kue-kue tradisional Indonesia untuk dijual, dan dengan itulah beliau membesarkan ketiga anaknya, karena sejak ibuku,anak ketiganya, masih kecil, kakek saya(suami dari mbah) sudah meninggal dunia.

Sejak aku lahir, yang kutahu mbah sudah tinggal bersama keluarga kami, mbahlah yang membantu ibu untuk membesarkan kami bertiga. Masih jelas dalam ingatanku, ketika aku baru saja masuk sekolah dasar, mbah lah yang selalu menemaniku dan mengantarku sampai di perjalanan. Sekolah dasarku memang cukup jauh jaraknya dari rumah, dan di daerah sekitarku memang sedikit yang pergi ke sekolah itu, karena mereka memilih sekolah dasar yang lebih dekat.

Saat aku masih kecilpun, untuk membantu ekonomi keluarga kami, mbah membuat kue, dan kami cucu-cucunya yang membawa ke warung untuk dijual, kemudian di sore hari kami kembali ke warung untuk menerima bayaran dari banyaknya kue yang terjual. Aktivitas mbah menjadi sedikit terhambat ketika matanya terserang penyakit Katarak. Sebelumnya beliau rajin mengikuti pengajian ibu-ibu di sekitar rumah kami, dan beliaulah yang selalu membangunkan kami untuk sholat shubuh di pagi hari.

Sejak terkena katarak, mbah lebih banyak berada di rumah. Kami sudah pernah mencoba mengajaknya untuk berobat ke dokter, tapi beliau tidak mau untuk operasi. Pengobatan alternatif yang kami coba pun sedikit memperbaiki, namun tidak bisa menyembuhkan secara total.

Dan sejak kurang lebih dua tahun yang lalu, pagi hari sebelum sholat shubuh, beliau terkena stroke, bagian tubuh sebelah kirinya tidak bisa digerakkan. Sudah hampir dua tahun ini, beliau menghabiskan hari-harinya di tempat tidur saja. Dan tanggal 30 Januari 2012, jam 5 pagi, beliau meninggal dunia. Beliau meninggal ketika berada dalam keadaan tidur, ketika kedua orang tua saya sedang sholat shubuh.

Ya Allah ampunilah segala dosa-dosanya dan terimalah segala amal ibadahnya.

Allahumaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha.

Aamiin.

Wassalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Semua butuh waktu, perjuangan, dan pengorbanan

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Pada hari selasa kemarin, di pelajaran bahasa Jepang, saya mendapatkan kesempatan untuk ketiga kalinya menonton video dari acara televisi Jepang, yang bernama Project X, kali ini bercerita tentang sebuah perusahaan Jepang yang sudah cukup dikenal namanya di dunia, yaitu Sony.

Sebelum menonton video tersebut, sensei mengadakan diskusi di dalam kelas, yang salah satu diskusinya adalah tentang bagaimana pendapat mahasiswa asing tentang produk Jepang (made in japan), mahasiswa di kelas, yang berasal dari negara Cina, Vietnam, Thailand, saya sendiri Indonesia, dan Columbia, mempunyai jawaban yang mirip, bahwasanya Made In Japan itu harganya agak mahal cuma kualitasnya baik. Bahkan untuk orang-orang Cina, saat ini menjadi sebuah trend untuk berwisata ke Jepang dan memborong alat-alat elektronik di Jepang, namun mereka hanya mau membeli barang Made in Japan.

Setelah Jepang kalah di Perang Dunia ke-2, perekonomian Jepang runtuh, hampir semua infrastruktur pun hancur akibat perang. Barang-barang asing banyak masuk ke Jepang, dan orang-orang Jepang yang sedang memulai kembali kehidupannya setelah perang bergantung kepada barang-barang asing yang masuk ke Jepang. Namun diantara mereka, tak sedikit juga orang-orang yang memikirkan bagaimana supaya perekonomian Jepang bisa bangkit kembali.

Pada saat itu, produk Made in Japan ibarat sampah yang tak berarti, harga murah, kualitas buruk, cepat rusak. Seperti itulah pandangan dunia 67 tahun yang lalu terhadap produk-produk Made in Japan. Namun, kenyataan pahit itu tidak membuat para insinyur pada zaman itu untuk berhenti, dan menikmati keterpurukan mereka. Justru mereka bangkit dan memikirkan bagaimana supaya dunia mengakui kemampuan mereka, di dada mereka tertanam begitu dalam semangat tentang “モノ作り”, semangat untuk membuat/menghasilkan sesuatu.

Di anatara para insinyur itu, ada seseorang yang bernama Morita Akio, yang bersama teman-temannya mendirikan sebuah pabrik, yang akhirnya mereka jadikan perusahaan bernama Tokyo Tsushin Kougyou. Di sana mereka merancang sebuah radio transistor, hingga menghasilkan suatu produk yang cukup memuaskan. Morita kemudian memutuskan untuk memasarkan produknya tersebut ke Amerika, sebelum ia pergi ke Amerika, supaya produknya ini bisa diterima oleh masyarakat dunia, maka dia memutuskan untuk mengubah nama perusahaannya menjadi Sony, yang dalam bahasa latin berarti 音, suara.

Bukan suatu hal yang mudah bagi seorang Japanese saat itu untuk pergi ke luar negeri, apalagi untuk menawarkan produk mereka,yang saat itu hanya dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Setelah ditolak oleh sekian banyak perusahaan, datanglah angin segar dari perusahaan jam tangan Bulova, mereka mempelajari dan memeriksa betul-betul radio transistor buatan Morita, dan rekan-rekannya.

Luar biasa, produk anda sangat sempurna, kami ingin memesan 100,000 radio ini, datanglah tawaran dari perusahaan tersebut. Namun perusahaan itu memberikan satu sarat, bahwa radio ini harus dijual dengan merek Bulova, karena mereka bilang tak ada yang kenal SONY, barang itu tak laku terjual, sedangkan kalau dijual dengan merek Bulova, semua orang sudah kenal.

Sebuah tawaran yang luar biasa dari perusahaan Bulova, namun apa jawaban dari Morita. Dia menolak tawaran tersebut, dan dia berkata, dalam 10 tahun ke depan, saya akan membuat merek SONY lebih terkenal daripada Bulova. Morita kemudian pulang ke Jepang, dan mengatur siasat lain untuk mempromosikan produknya tersebut.

Video sendiri terputus, karena jam pelajaran sudah selesai, tetapi memberikan sedikit gambaran kepada saya, bahwa made in japan saat ini yang sudah diakui di dunia dengan kualitasnya, tidaklah dicapai dengan kemudahan. Mereka bangga dengan apa yang mereka miliki, dan mereka berjuang, berkorban, untuk menunjukkan kepada dunia tentang kemampuan mereka.

Mereka tak pernah putus asa untuk menunggu, karena memang semua butuh waktu. Walau mereka bukanlah seorang Muslim, tapi mereka yakin bahwasanya Tuhan akan memberikan sesuai dengan apa yang mereka usahakan, karenanya mereka tak pernah berhenti.

Jangan pernah melihat sesuatu hanya dari apa yang dicapainya, tapi lihatlah dan pelajarilah juga berapa besar perjuangan, berapa banyak pengorbanan, dan berapa lama semua itu bisa dicapai.

Wassalammu’alaykum warahamtullahi wabarakatuh