Category Archives: Coretan

Komorebi 3

Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah mendapatkan kesempatan menulis di Majalah Komorebi Kammi Jepang, silakan rekan-rekan lihat di sini.

http://issuu.com/kammi-jepang/docs/komorebi3

Advertisements

Coretan Jumat Petang

Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Beberapa tahun lalu, ketika saya masih part time di sebuah restoran di Jepang, ada sebuah percakapan dengan teman yang sampai sekarang masih saya ingat. Saat itu saya bekerja di restoran untuk mencuci piring, dan membersihkan dapur. Sambil bekerja biasanya saya memperhatikan bagaimana koki-koki di dapur dengan lincah dan cekatannya memasak. Salah satu yang membuat saya tertarik, ada salah seorang koki muda, yang umurnya masih 26 tahun saat itu, terbiasa memindah-mindahkan panci-panci panas dengan tangan kosong. Dalam suatu kesempatan, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada koki muda itu, Apakah tidak terasa panas ketika memindahkan panci, penggorengan yang baru saja digunakan di atas kompor. Lalu dengan tenang dia menjawab, “gaman surundayo”, ditahan aja rasa panasnya, nanti juga hilang.

Kata-kata koki muda itu, sangatlah simple, tapi mengajak saya berpikir. Mungkin kalau saya yang berada dalam posisi dia, pasti saya sudah menjatuhkan panci dan penggorengan panas itu, karena tidak kuat dengan rasa panasnya. Tapi, bagaimana dengan rasa panas yang sama, dia seperti tidak merasa apa-apa memindahkan barang-barang tersebut.

Dalam kesempatan lain, saya juga pernah mendengar cerita dari seorang pengusaha muda Jepang. Setelah lulus Ph.D, pemuda tersebut terjun ke dunia bisnis, dan dia menceritakan bagaimana jatuh bangunnya dia. Salah satu yang terparah adalah, dia gagal dalam usahanya, menanggung utang beberapa juta yen, dan sudah habis uangnya, hanya bersisa beberapa koin yen saja. Tapi kemudian dia menambahkan, kegagalan yang dia rasakan itulah yang membuatnya kini bisa berhasil. Hingga saat ini, dia sudah mendirikan sekitar 15 venture company, yang terus berkembang.

Hidup memang tak akan pernah semulus dari apa yang kita rencanakan. Hidup dan cobaan adalah satu set yang harus kita terima. Cobaaan bukan hanya yang menyakitkan dan bencana saja. Tapi kenikmatan dan kelebihan juga merupakan cobaan dalam hidup ini. Ketika kita dicoba dengan kesulitan, sejauh mana kita bisa tahan dan bersabar dari cobaan tersebut. Ketika kita dicoba dengan kenikmatan, sejauh mana kita bisa bersyukur dan tidak sombong, serta menebar manfaat dari kenikmatan tersebut. Keadaan yang sama akan berbeda, dari bagaimana kita menghadapinya. Seperti cerita pertama, panci yang panas itu jadi biasa, ketika dia bertahan. Lalu seperti cerita kedua, ketika kegagalan menjadi pelajaran untuk maju menuju kesuksesan.

Terakhir, saya ingin mengutip sebuah percakapan antara wartawan dan Konosuke Matsushita, pendiri Panasonic. Dalam suatu kesempatan, wartawan bertanya kepada Konosuke Matsushita, “Apa yang membuat anda bisa menjadi sukses seperti sekarang ini ?”, kemudian Konosuke Matsushita menjawab, “Kalau memang keadaan sekarang bisa disebut sebuah kesuksesan, secara jujur saya juga tidak tahu jawabannya. Saya cuma bisa jawab inilah takdir saya, tapi bisa penyebabnya adalah karena saya tidak berpendidikan tinggi, dan karena badan saya lemah.”. Kemudian wartawan menjawab, “Anda jangan bercanda”. Dan Konosuke Matshushita kembali menjawab, “Tidak, saya sama sekali tidak sedang bercanda, saya memang tidak berpendidikan tinggi, karena itu dalam melakukan pekerjaan, saya bekerjasama dengan mereka yang berpendidikan, dan saya sangat menghormati orang-orang tersebut. Saya menganggap orang-orang di perusahan saya semuanya lebih tinggi dari saya, karena mereka orang-orang yang berpendidikan. Dalam berdiskusi dengan mereka pun saya selalu mendengarkan pendapat mereka. Lalu, badan saya memang lemah dari sejak saya kecil. Oleh karenanya dalam pekerjaan pun, saya selalu membutuhkan tenaga orang lain, dan ketika memberikan pekerjaan kepada orang lain, saya selalu mempercayakan pekerjaan itu kepadanya, sehingga orang tersebut bisa bebas mengembangkan kemampuannya. Oleh karena itu saya tidak sama sekali bermaksud bercanda dalam menjawab pertanyaan anda.”

Apapun yang kita miliki, baik kelebihan dan kekurangan, adalah cobaan, semua itu tergantung bagaimana pola pikir kita dalam menghadapinya.

Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Bulan April

Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sudah cukup lama juga tidak menulis di blog. Mudah-mudahan mulai sekarang bisa lebih pintar membagi waktu, termasuk juga menyediakan waktu untuk menulis di blog ini. Sesuai judul bulan April, menjadi salah satu bulan istimewa, karena beberapa alasan.

Yang pertama adalah, saya untuk pertama kalinya naik pesawat pada tanggal 1 April 2007, lalu untuk pertama kalinya ke luar negeri, dan menginjakkan kaki saya di Jepang pada tanggal 2 April 2007. Setiap bulan April datang, menjadi momen tersendiri untuk meningatkan kedatangan saya ke Jepang. Khususnya tahun ini, karena mirip sekali dengan saat saya datang ke Jepang, hujan turun seharian, suhu udara yang agak dingin, mengingatkan saya dengan keadaan 6 tahun yang lalu.

Momen ini selalu saya jadikan kesempatan untuk mengingat kembali, semangat, dan motivasi saya ketika saya datang ke Jepang 6 tahun yang lalu. Karena sangatlah tidak gampang memutuskan untuk memilih melanjutkan sekolah di Jepang, meninggalkan keluarga, meninggalkan bangku kuliah di Indonesia yang telah saya tempuh untuk 1,5 tahun, melepas dua beasiswa yang telah saya peroleh, melepas berbagai kondisi nyaman yang ada. Apalagi saya ke Jepang, tanpa bisa sedikitpun bahasa Jepang, dan hanya mendapatkan jaminan beasiswa selama menempuh setahun kelas bahasa Jepang, dan dua tahun program diploma.

Dengan berbagai rutinitas dan aktivitas, serta lika liku kehidupan di Jepang, terkadang membawa saya untuk melupakan semangat-semangat dan motivasi itu. Oleh karenanya momen ini, selalu saya jadikan sebagai proses untuk mengembalikan lagi gerbong kereta yang sedang saya kendarai kepada rel dimana dia seharusnya berjalan.

Selain itu, bulan April adalah bulan dimana saya dilahirkan, setiap bulan April datang bertambahlah usia saya, dan berkuranglah jatah umur saya di bumi ini. Bulan April, menjadi bulan checkpoint bagi saya, untuk me-muhasabah diri, tahun ini saya, genap 26 tahun berlalu setelah saya dilahirkan. Apa yang telah saya lewati selama 26 tahun ini, tak bisa kembali, dan tak bisa diubah. Saya hanya bisa belajar, dan memperbaiki apa-apa yang kurang, serta mempertahankan apa-apa yang telah baik, serta memikirkan kembali tentang impian saya.

Yang terakhir, bulan April merupakan bulan dari awal tahun ajaran di Jepang, akan banyak teman-teman baru, dan akan banyak juga petualangan, dan tantangan-tantangan baru yang akan menunggu. Teman-teman yang lulus bulan Maret lalu, ada yang pulang ke Indonesia, ada juga yang memilih bekerja di Jepang. Setiap orang bertemu dengan lingkungan barunya.

Semoga kita semua bisa menyesuaikan diri di lingkungan baru kita, dan semoga bisa menjadi insan yang lebih baik, dan lebih bermanfaat buat sekitarnya.

Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sebuah Catatan Lama

Hidup adalah belajar.
Belajar adalah perubahan.
Mustahil, manusia yang hidup tidak belajar,
karena setiap hari semua inderanya akan berhubungan dengan sesuatu,
karena itu pasti otaknya akan mencatat dan membuat hubungan itu.
Hanya ada 2 belajar dalam dunia ini,
belajar pada kebaikan,
atau belajar pada keburukan,
belajar pada kebaikan akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik,
belajar pada keburukan akan membwa perubahan ke arah yang lebih buruk.
Pastikan diri kita belajar pada kebaikan, sehingga suatu hari nanti, grafik kehidupan kita menjadi asimtot dari garis kesempurnaan.

4 Januari 2007
(dari salah satu kamar di asrama PPSDMS Reg.1)

電車

私たちは”時間”っていう電車に乗っています。
この電車はずっと走っています。
わずか1秒でも止まったことがないです。
でもいつか止まるようになります。
その時はもう動かなくなります。
もう終わりです。
この電車の運転手は私たちです。
私たちそれぞれ自分の電車に乗って運転しています。
この電車はどこに行くのか私たち運転手として決めます。
この電車はとっても素晴らしいです。
どこに動かしても線路が自動的に作ります。
私たちはこの電車に乗ってどこにも行けますが、
一つ場所で回ってることもできます。
全て私たちが決めます。
だから周りを見ると、遠くまで行く人もいればどこにも行かない人もいます。
私たちはどんな運転手なのか?
自分の電車はどこまで行けるのか?
自分で決めるべきです。
ただ、いつまでこの電車が動けるのか私たちは全然わかりません。
だから今動いているうちに私たちの行きたい場所まで走りましょう。

Semua butuh waktu, perjuangan, dan pengorbanan

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Pada hari selasa kemarin, di pelajaran bahasa Jepang, saya mendapatkan kesempatan untuk ketiga kalinya menonton video dari acara televisi Jepang, yang bernama Project X, kali ini bercerita tentang sebuah perusahaan Jepang yang sudah cukup dikenal namanya di dunia, yaitu Sony.

Sebelum menonton video tersebut, sensei mengadakan diskusi di dalam kelas, yang salah satu diskusinya adalah tentang bagaimana pendapat mahasiswa asing tentang produk Jepang (made in japan), mahasiswa di kelas, yang berasal dari negara Cina, Vietnam, Thailand, saya sendiri Indonesia, dan Columbia, mempunyai jawaban yang mirip, bahwasanya Made In Japan itu harganya agak mahal cuma kualitasnya baik. Bahkan untuk orang-orang Cina, saat ini menjadi sebuah trend untuk berwisata ke Jepang dan memborong alat-alat elektronik di Jepang, namun mereka hanya mau membeli barang Made in Japan.

Setelah Jepang kalah di Perang Dunia ke-2, perekonomian Jepang runtuh, hampir semua infrastruktur pun hancur akibat perang. Barang-barang asing banyak masuk ke Jepang, dan orang-orang Jepang yang sedang memulai kembali kehidupannya setelah perang bergantung kepada barang-barang asing yang masuk ke Jepang. Namun diantara mereka, tak sedikit juga orang-orang yang memikirkan bagaimana supaya perekonomian Jepang bisa bangkit kembali.

Pada saat itu, produk Made in Japan ibarat sampah yang tak berarti, harga murah, kualitas buruk, cepat rusak. Seperti itulah pandangan dunia 67 tahun yang lalu terhadap produk-produk Made in Japan. Namun, kenyataan pahit itu tidak membuat para insinyur pada zaman itu untuk berhenti, dan menikmati keterpurukan mereka. Justru mereka bangkit dan memikirkan bagaimana supaya dunia mengakui kemampuan mereka, di dada mereka tertanam begitu dalam semangat tentang “モノ作り”, semangat untuk membuat/menghasilkan sesuatu.

Di anatara para insinyur itu, ada seseorang yang bernama Morita Akio, yang bersama teman-temannya mendirikan sebuah pabrik, yang akhirnya mereka jadikan perusahaan bernama Tokyo Tsushin Kougyou. Di sana mereka merancang sebuah radio transistor, hingga menghasilkan suatu produk yang cukup memuaskan. Morita kemudian memutuskan untuk memasarkan produknya tersebut ke Amerika, sebelum ia pergi ke Amerika, supaya produknya ini bisa diterima oleh masyarakat dunia, maka dia memutuskan untuk mengubah nama perusahaannya menjadi Sony, yang dalam bahasa latin berarti 音, suara.

Bukan suatu hal yang mudah bagi seorang Japanese saat itu untuk pergi ke luar negeri, apalagi untuk menawarkan produk mereka,yang saat itu hanya dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Setelah ditolak oleh sekian banyak perusahaan, datanglah angin segar dari perusahaan jam tangan Bulova, mereka mempelajari dan memeriksa betul-betul radio transistor buatan Morita, dan rekan-rekannya.

Luar biasa, produk anda sangat sempurna, kami ingin memesan 100,000 radio ini, datanglah tawaran dari perusahaan tersebut. Namun perusahaan itu memberikan satu sarat, bahwa radio ini harus dijual dengan merek Bulova, karena mereka bilang tak ada yang kenal SONY, barang itu tak laku terjual, sedangkan kalau dijual dengan merek Bulova, semua orang sudah kenal.

Sebuah tawaran yang luar biasa dari perusahaan Bulova, namun apa jawaban dari Morita. Dia menolak tawaran tersebut, dan dia berkata, dalam 10 tahun ke depan, saya akan membuat merek SONY lebih terkenal daripada Bulova. Morita kemudian pulang ke Jepang, dan mengatur siasat lain untuk mempromosikan produknya tersebut.

Video sendiri terputus, karena jam pelajaran sudah selesai, tetapi memberikan sedikit gambaran kepada saya, bahwa made in japan saat ini yang sudah diakui di dunia dengan kualitasnya, tidaklah dicapai dengan kemudahan. Mereka bangga dengan apa yang mereka miliki, dan mereka berjuang, berkorban, untuk menunjukkan kepada dunia tentang kemampuan mereka.

Mereka tak pernah putus asa untuk menunggu, karena memang semua butuh waktu. Walau mereka bukanlah seorang Muslim, tapi mereka yakin bahwasanya Tuhan akan memberikan sesuai dengan apa yang mereka usahakan, karenanya mereka tak pernah berhenti.

Jangan pernah melihat sesuatu hanya dari apa yang dicapainya, tapi lihatlah dan pelajarilah juga berapa besar perjuangan, berapa banyak pengorbanan, dan berapa lama semua itu bisa dicapai.

Wassalammu’alaykum warahamtullahi wabarakatuh

やればできるもんです

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Pekan lalu ada dua berita yang membuat saya benar-benar termotivasi lagi untuk berusaha lebih keras dalam menggapai cita-cita dan impian. Dua berita dari dua orang yang relatif tidak terlalu jauh umurnya dari saya. Berita pertama adalah dari dunia Sumo, setelah Asashouryuu, pesumo asal Mongolia, yang telah menyandang gelar Yokozuna, menyatakan berhenti pada awal tahun 2010 yang lalu, alhasil sudah dua tahun ini Yokozuna hanya seorang saja, yaitu Hakuhou, pesumo yang berasal dari Mongolia juga. Selama dua tahun terakhir ini, kemengangan didominasi oleh Hakuhou, dan beberapa kali oleh Haruma Fuji, membuat pertandingan-pertandingan sumo tidak terlalu seru, karena sedikit sekali pesumo kuat yang bisa menandingi Yokozuna Hakuhou.

Setelah berhentinya Oozeki(satu gelar dibawah Yokozuna) Kaiou, maka secara otomatis dua gelar teratas di dunia Sumo, diisi oleh pesumo-pesumo yang berasal dari luar negeri. Namun pesumo Jepang sepertinya tak mau kalah, sehingga dalam 6 bulan terakhir, 2 orang pesumo Jepang berhasil naik ke gelar Oozeki, yaitu Kotoshougiku dan Kisenosato.

Yang cukup mengejutkan adalah, di pertandingan sumo bulan Januari yang berlangsung dari tanggal 8 hingga tanggal 22 Januari lalu, pesumo asal Estonia, Baruto, menunjukkan kemampuannya, dia berhasil memenangkan pertandingan dengan rekor 14 kali menang dan 1 kali kalah. Baruto yang telah menjadi Oozeki sejak bulan Mei tahun 2010, berhasil mengumpulkan kemenangan terbanyak selama 15 hari, walaupun di hari terakhir harus ditaklukan oleh Yokozuna Hakuhou.

Dalam wawancara setelah mendapatkan trophy kemenangan, dia berkata やればできるもんです, kalau dilakukan pasti bisa.
Sebuah kata-kata sederhana yang memotivasi saya untuk bisa berusaha lebih keras lagi untuk menggapai impian dan cita-cita.

Berita kedua berasal dari dunia Tenis Meja Jepang. Seorang atlet wanita yang telah memulai tenis meja sejak usia 3 tahun. Dan sejak usia 3 tahun itu, setiap ditanya apa impiannya, selalu menjawab Olympic(olimpiade). Atlet itu bernama Fukuhara Ai, yang sering disebut dengan panggilan Ai chan. Sejak 3 tahun, dia memulai tenis meja, di usia muda 14 tahun berhasil menjadi salah satu wakil Jepang untuk kejuaraan dunia tenis meja.

Sejak kecil Ai chan ini menjadi salah satu perhatian media massa, dan selalu diberitakan sebagai 天才少女(Anak perempuan jenius), Ai chan kecil pernah bertanya kepada ibunya, “Ibu apa itu tensai?”, si ibu dengan bijak menjawab, ” Tenang saja, kamu itu tidak tensai, tapi semua ini kamu capai karena latihan keras”.

Tapi ternyata semua tidak bisa dicapai dengan mudah oleh Ai chan, Kejuaraan Nasional Tenis Meja Jepang, yang telah dia ikuti sejak usia 10 tahun, dia baru berhasil menjadi juaranya di tahun ini, dimana dia untuk ke-13 kali nya ikut di kejuaraan ini. Sebelumnya dia selalu bolak balik diantara 8 besar, dan 16 besar.

Berapa kali pun dia sempat putus asa, namun sekian kali pula dia terus bangkit, mengalahkan dirinya sendiri hingga akhirnya tahun ini dia berhasil menjuarai Kejuaraan Nasional Tenis Meja Jepang.

Baruto baru berumur 27 tahun, dan Ai chan baru berumur 23 tahun. Di usia yang tidak terlalu jauh dari saya, mereka berdua sudah menorehkan satu catatan yang tak bisa dihapus, setidaknya dalam sejaran olahraga Jepang. Tapi mereka mendapatkan itu bukan dengan kemudahan dan tanpa usaha, mereka jatuh, kemudian bangkit lagi, berusaha lebih keras lagi, mereka menaklukan diri mereka sendiri, hingga akhirnya bisa menjadi juara di tempatnya.