Donor Darah (献血)


Assalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Aku pertama kali mengenal tentang donor darah, saat aku masih belum masuk Sekolah Dasar. Suatu hari, alm. Bapak yang selalu rutin donor darah, mengajakku ke PMI. Kami berdua naik bus dari Depok ke Jakarta. Karena saat itu aku masih kecil, aku hanya bisa menyaksikan saja ketika Bapak donor darah. Setelah selesai donor, Bapak diberikan satu mangkuk mie rebus, satu gelas susu, dan satu buah telur rebus. Walaupun aku hanya melihat, dan tak ikut donor darah, tapi ternyata aku mendapatkan juga mie rebus, susu, dan telur rebus. Bapak pun pernah menunjukkan sertifikat penghargaan yang diberikan oleh PMI saat Bapak telah melakukan donor darah sebanyak 50 kali. Sejak saat itu, aku berniat kalau aku sudah besar nanti, aku juga mau mengikuti jejak Bapak untuk donor darah secara rutin.

Aku pertama kali donor darah saat masih duduk di bangku SMA, saat itu ada acara di sekolah dan PMI datang membuka pos untuk donor darah. Singkat cerita, sejak datang ke Jepang pun aku mulai mencari bagaimana cara berdonor darah. Di Jepang, cukup banyak pemeriksaan sebelum kita akhirnya dinyatakan boleh untuk mendonorkan darah. Untuk saya, ketika pertama kali donor darah di Jepang, sebelum mengisi formulir pendaftaran, saya ditanya berasal dari mana di Indonesianya, lalu sudah berapa lama di Jepang. Setelah OK, baru kemudian saya mengisi formulir donor darah. Setelah itu, saya diarahkan ke sebuah terminal touch panel, dan disuruh untuk menjawab pertanyaan yang ada di sana. Pertanyaan seputar tentang, bagaimana keadaan badan saat itu, apakah minum obat dalam beberapa hari terakhir, penyakit yang pernah di derita, pernah bepergian atau tinggal di luar negeri atau tidak, dan lain-lain. Setelah selesai menjawab, maka hasil jawabannya akan dicetak, dan kita disuruh tanda tangan. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan dokter. Pada pemeriksaan dokter ini, diperiksa tekanan darah, terus ditanya lebih lanjut dari hasil jawaban yang dicetak sebelumnya. Kalau oke, kita akan diarahkan ke tempat pengambilan sampel darah. Di sana, kita akan disuruh memperlihatkan kedua lengan kita, akan dilihat urat nadi lengan sebelah mana yang lebih mudah untuk donor darah. Misal, setelah ditentukan sebelah kanan, maka dari lengan sebelah kiri kita akan diambil sampel darah. Dari hasil sampel darah itu, apakah kita bisa untuk donor 400 ml, atau hanya boleh 200ml, atau ternyata tidak mencukupi. Kalau ternyata sudah oke, biasanya kita disuruh minum dulu, sambil menunggu panggilan untuk langsung ke tempat pengambilan darah.

Beberapa minggu setelah kita donor darah, maka kita akan dikirimkan kartu pos yang berisi hasil pemeriksaan darah, seperti jumlah kandungan sel darah merah, sel darah putih, kolesterol, ALB, dll. Terus diberitahukan juga jumlah kandungan standar yang harusnya ada di dalam darah orang yang normal. Jadi kita bisa membandingkan hasil tes darah kita dengan jumlah kandungan standar itu. Saat ini, kita juga bisa mengecek hasil tes darah itu melalui internet. Berbeda dengan Indonesia, di Jepang tak disediakan mie rebus, dan telur rebus. Yang disediakan minum, dan snack saja.

Setiap saya donor darah, saya selalu ingat dengan alm.Bapak. Walaupun Bapak telah tiada, setiap saya donor darah maka saya selalu terkenang wajah Bapak.  Terima kasih telah mengenalkan saya dengan donor darah. Mudah-mudahan saya bisa meneruskan donor darah, dan bisa mengikuti jejak Bapak yang telah donor darah lebih dari 50 kali.

Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s