Selamat tinggal mbah.


Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Mbah, itulah panggilan sayang kami kepada nenek dari Ibu, dia satu-satunya orang tua ibu dan bapak saya yang masih hidup ketika saya lahir. Tak ada yang tahu persis kapan mbah lahir, tapi yang pasti dia sudah hidup sejak zaman kolonial Belanda. Cerita-cerita Indonesia di zaman kolonial Belanda dan Jepang, seringkali kudengar dari beliau, bagaimana keadaan dan susahnya rakyat Indonesia pada zaman itu.

Keadaan Indonesia yang masih berada di bawah penjajahan itu, membuat mbah tidak mendapatkan kesempatan untuk bisa mengenyam pendidikan di bangku sekolah formal, sehingga mbah tidak bisa baca dan tulis. Namun, kemampuannya membuat kue-kue tradisional Indonesia tak perlu diragukan. Dengan kedua tangannya mbah seringkali membuat kue-kue tradisional Indonesia untuk dijual, dan dengan itulah beliau membesarkan ketiga anaknya, karena sejak ibuku,anak ketiganya, masih kecil, kakek saya(suami dari mbah) sudah meninggal dunia.

Sejak aku lahir, yang kutahu mbah sudah tinggal bersama keluarga kami, mbahlah yang membantu ibu untuk membesarkan kami bertiga. Masih jelas dalam ingatanku, ketika aku baru saja masuk sekolah dasar, mbah lah yang selalu menemaniku dan mengantarku sampai di perjalanan. Sekolah dasarku memang cukup jauh jaraknya dari rumah, dan di daerah sekitarku memang sedikit yang pergi ke sekolah itu, karena mereka memilih sekolah dasar yang lebih dekat.

Saat aku masih kecilpun, untuk membantu ekonomi keluarga kami, mbah membuat kue, dan kami cucu-cucunya yang membawa ke warung untuk dijual, kemudian di sore hari kami kembali ke warung untuk menerima bayaran dari banyaknya kue yang terjual. Aktivitas mbah menjadi sedikit terhambat ketika matanya terserang penyakit Katarak. Sebelumnya beliau rajin mengikuti pengajian ibu-ibu di sekitar rumah kami, dan beliaulah yang selalu membangunkan kami untuk sholat shubuh di pagi hari.

Sejak terkena katarak, mbah lebih banyak berada di rumah. Kami sudah pernah mencoba mengajaknya untuk berobat ke dokter, tapi beliau tidak mau untuk operasi. Pengobatan alternatif yang kami coba pun sedikit memperbaiki, namun tidak bisa menyembuhkan secara total.

Dan sejak kurang lebih dua tahun yang lalu, pagi hari sebelum sholat shubuh, beliau terkena stroke, bagian tubuh sebelah kirinya tidak bisa digerakkan. Sudah hampir dua tahun ini, beliau menghabiskan hari-harinya di tempat tidur saja. Dan tanggal 30 Januari 2012, jam 5 pagi, beliau meninggal dunia. Beliau meninggal ketika berada dalam keadaan tidur, ketika kedua orang tua saya sedang sholat shubuh.

Ya Allah ampunilah segala dosa-dosanya dan terimalah segala amal ibadahnya.

Allahumaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha.

Aamiin.

Wassalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s