Semua butuh waktu, perjuangan, dan pengorbanan


Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Pada hari selasa kemarin, di pelajaran bahasa Jepang, saya mendapatkan kesempatan untuk ketiga kalinya menonton video dari acara televisi Jepang, yang bernama Project X, kali ini bercerita tentang sebuah perusahaan Jepang yang sudah cukup dikenal namanya di dunia, yaitu Sony.

Sebelum menonton video tersebut, sensei mengadakan diskusi di dalam kelas, yang salah satu diskusinya adalah tentang bagaimana pendapat mahasiswa asing tentang produk Jepang (made in japan), mahasiswa di kelas, yang berasal dari negara Cina, Vietnam, Thailand, saya sendiri Indonesia, dan Columbia, mempunyai jawaban yang mirip, bahwasanya Made In Japan itu harganya agak mahal cuma kualitasnya baik. Bahkan untuk orang-orang Cina, saat ini menjadi sebuah trend untuk berwisata ke Jepang dan memborong alat-alat elektronik di Jepang, namun mereka hanya mau membeli barang Made in Japan.

Setelah Jepang kalah di Perang Dunia ke-2, perekonomian Jepang runtuh, hampir semua infrastruktur pun hancur akibat perang. Barang-barang asing banyak masuk ke Jepang, dan orang-orang Jepang yang sedang memulai kembali kehidupannya setelah perang bergantung kepada barang-barang asing yang masuk ke Jepang. Namun diantara mereka, tak sedikit juga orang-orang yang memikirkan bagaimana supaya perekonomian Jepang bisa bangkit kembali.

Pada saat itu, produk Made in Japan ibarat sampah yang tak berarti, harga murah, kualitas buruk, cepat rusak. Seperti itulah pandangan dunia 67 tahun yang lalu terhadap produk-produk Made in Japan. Namun, kenyataan pahit itu tidak membuat para insinyur pada zaman itu untuk berhenti, dan menikmati keterpurukan mereka. Justru mereka bangkit dan memikirkan bagaimana supaya dunia mengakui kemampuan mereka, di dada mereka tertanam begitu dalam semangat tentang “モノ作り”, semangat untuk membuat/menghasilkan sesuatu.

Di anatara para insinyur itu, ada seseorang yang bernama Morita Akio, yang bersama teman-temannya mendirikan sebuah pabrik, yang akhirnya mereka jadikan perusahaan bernama Tokyo Tsushin Kougyou. Di sana mereka merancang sebuah radio transistor, hingga menghasilkan suatu produk yang cukup memuaskan. Morita kemudian memutuskan untuk memasarkan produknya tersebut ke Amerika, sebelum ia pergi ke Amerika, supaya produknya ini bisa diterima oleh masyarakat dunia, maka dia memutuskan untuk mengubah nama perusahaannya menjadi Sony, yang dalam bahasa latin berarti 音, suara.

Bukan suatu hal yang mudah bagi seorang Japanese saat itu untuk pergi ke luar negeri, apalagi untuk menawarkan produk mereka,yang saat itu hanya dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Setelah ditolak oleh sekian banyak perusahaan, datanglah angin segar dari perusahaan jam tangan Bulova, mereka mempelajari dan memeriksa betul-betul radio transistor buatan Morita, dan rekan-rekannya.

Luar biasa, produk anda sangat sempurna, kami ingin memesan 100,000 radio ini, datanglah tawaran dari perusahaan tersebut. Namun perusahaan itu memberikan satu sarat, bahwa radio ini harus dijual dengan merek Bulova, karena mereka bilang tak ada yang kenal SONY, barang itu tak laku terjual, sedangkan kalau dijual dengan merek Bulova, semua orang sudah kenal.

Sebuah tawaran yang luar biasa dari perusahaan Bulova, namun apa jawaban dari Morita. Dia menolak tawaran tersebut, dan dia berkata, dalam 10 tahun ke depan, saya akan membuat merek SONY lebih terkenal daripada Bulova. Morita kemudian pulang ke Jepang, dan mengatur siasat lain untuk mempromosikan produknya tersebut.

Video sendiri terputus, karena jam pelajaran sudah selesai, tetapi memberikan sedikit gambaran kepada saya, bahwa made in japan saat ini yang sudah diakui di dunia dengan kualitasnya, tidaklah dicapai dengan kemudahan. Mereka bangga dengan apa yang mereka miliki, dan mereka berjuang, berkorban, untuk menunjukkan kepada dunia tentang kemampuan mereka.

Mereka tak pernah putus asa untuk menunggu, karena memang semua butuh waktu. Walau mereka bukanlah seorang Muslim, tapi mereka yakin bahwasanya Tuhan akan memberikan sesuai dengan apa yang mereka usahakan, karenanya mereka tak pernah berhenti.

Jangan pernah melihat sesuatu hanya dari apa yang dicapainya, tapi lihatlah dan pelajarilah juga berapa besar perjuangan, berapa banyak pengorbanan, dan berapa lama semua itu bisa dicapai.

Wassalammu’alaykum warahamtullahi wabarakatuh

Advertisements

5 responses to “Semua butuh waktu, perjuangan, dan pengorbanan

  1. menarik banget… nanti kalo udah tau apa yg dilakukan Morita-san ditulis lagi y Fril

  2. Coba bandingkan dengan cerita saya…
    Minggu yg lalu sy memesan sebuah komputer lewat internet. Sy dan seorang temen melihat bahwa gambar komputer yg disertakan di website tsb sangat bagus, tidak terlihat sedikitpun ada cacat dlsb. Kemudian lewat teman sy tsb, komputer itu di order dan sampailah komputer itu ke tangan sy (tentunya setelah membayar harganya dan ongkos kirim). Dan ketika komputer itu dibuka, sy kaget sekaget2nya karena ternyata komputer itu mengandung cacat yg cukup besar. bagian sebelah kiri bagian catnya terkelupas kira-kira 6 cm, sehingga kelihatan seperti gosong (hitam). dan itu tidak diperlihatkan lewat gambar yg diposting di website. Katanya konon itu ditulis di keterangannya (tentunya dalam bhs kanji yg aneh-karena teman sy tidak mengerti padahal sudah belajar kanji selama 4 tahun)

    Selanjutnya dengan bantuan org jepang, sy memproses pembatalan pembelian komputer tsb. Dan akhirnya komputer itu sy kembalikan. Tetapi apa yg terjadi?

    si pihak kompeninya menelepon dan mengatakan bahwa uangnya tidak bisa dikembalikan karena ada perbedaan nama yg tercantum di order name dan bank account nya. Dan akhirnya dia mengirim kembali komputer itu.

    Ya itulah sekelumit pengalaman pahit sy. Memang salah sy sih, sy terlalu percaya bahwa orang jepang itu jujur, menjunjung nilai2 peradaban yang tinggi, menerapkan regulasi utk memproteksi konsumen, berani mengakui kesalahan, dlsb.

    Terima kasih sudah mau membaca cerita ini…
    TR

    • Kl pengalaman pahit, saya juga tentunya ada pak.
      Mirip-mirip dengan bapak, internet shopping.
      Ketika berada dalam posisi benar, dan dirugikan, saya selalu membiasakan untuk protes, dan alhamdulillah selama ini selalu diproses dengan baik.
      Tapi sejak saat itu, untuk melakukan internet shopping saya jadi lebih selektif dan hati-hati.

  3. jadi seperti mencari beasiswa ya, fril…hehehe…nggak boleh putus asa…scholarship hunter…mencoba dan berjuang terus (sambil berdoa). btw, ikut senang dengan berita pernikahannya, semoga barokah dunia akhirat,aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s