Monthly Archives: November 2011

何もないから作るしかなかった

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Telah menjadi salah satu kebiasaan saya, ketika sedang menunggu kereta, saya manfaatkan waktu untuk membaca poster-poster yang tertempel di stasiun, isinya bermacam-macam, kalau di daerah yang sekarang saya tinggali karena memang memliki keindahan alam yang bagus, biasanya isinya adalah promosi wisata alam. Setelah berkeliling membaca beberapa poster, saya menemukan satu poster yang menurut saya isinya cukup menggugah.

Berikut petikan kalimat dalam poster tersebut,

何もないから、作るしかなかった。

資源はなかった。

そのぶん一生懸命考えた。技術を磨いた。

これこそ昔から日本が得意とするやり方。

高度成長期に始まって近未来の20XX年まで。

人間の力だけが頼りの

その時代その時代凄いモノづくりから、勇気や希望をお持ち帰りください。

Yang kira-kira arti bahasa Indonesianya sebagai berikut,

Karena tak ada sesuatu apapun, tak ada pilihan lain selain membuat.

Sumber daya pun tak ada.

Tapi karena itu, kami berpikir keras. Kami mengasah keahlian.

Inilah kelebihan cara bekerja jepang dari masa lalu.

Berawal dari periode pertumbuhan ekonomi hingga tahun 20xx ini.

Hanya sumber daya manusia saya yang menjadi andalan,

Dari kehebatan menghasilkan suatu barang di tiap-tiap zaman, silakan anda bawa pulang keberanian dan harapan.

 

Isi kepala saya menerawang ke tahun 1945 dimana Jepang kalah dari perang Pasifik. Semua hancur, bahkan dua kotanya dijatuhkan bom atom. Tak ada apapun. Yang tersisia hanyalah mereka-mereka yang selamat dari kejamnya peperangan itu. Dengan keterbatasan jumlah sumber daya alam yang dimilikinya Jepang memilih jalan lain untuk membangun negaranya. Jepang memusatkan perhatiannya kepada pembinaan sumber daya manusia. Yang pertama kali mereka lakukan setelah perang adalah mendata jumlah guru yang masih tersisa. Dari kehancuran, dan dari ketidakmemiliki apa-apa Jepang berpikir untuk membuat sesuatu, sesuatu yang berguna untuk peradaban manusia.

Sering ada yang membandingkan keadaan antara Jepang yang kalah perang di tahun 1945 dengan Indonesia yang baru merdeka di tahun 1945, dan menyatakan bahwa dengan start yang sama tapi Indonesia ketinggalan jauh dari Jepang. Ada point yang tidak objektif pada perbandingan ini, salah satunya adalah bahwa saat itu tingkat melek huruf di Jepang kira-kira hampir 100% dibandingkan dengan Indonesia yang masih sekitar 5%. Suatu perbedaan yang sangat signifikan untuk proses pembangunan.

Melalui pengalaman ini harusnya kita bisa mengambil pelajaran penting tentang betapa berharganya sumber daya manusia, dengan kualitas SDM yang baik, negara seperti Jepang yang  jika dibandingkan dengan Indonesia, tidak memiliki cukup banyak SDA mampu membangun negaranya, dan mampu menunjukkan semangat モノづくり, membuat sesuatu barang, yang tentunya bermanfaat untuk peradaban manusia. Semangat モノづくり merupakan suatu nilai yang turun temurun melekat dalam masyarakat Jepang. Mereka selalu mencoba untuk mendengarkan segala macam bentuk masukan, keluhan, dan saran apapun terhadap produk yang mereka hasilkan, untuk nantinya digunakan sebagai ide untuk membuat produk lain yang bermanfaat.

Kayanya Indonesia dengan Sumber Daya Alam marilah jangan sampai membuat kita terlena untuk tidak mengasah keahlian dan kemampuan kita. Masing-masing kita diciptakan oleh Allah SWT ini untuk membawa kontribusi masing-masing yang tak bisa digantikan oleh yang lainnya. Oleh karena itu, kita tak punya alasan untuk kehabisan lahan untuk menyumbangkan pikiran dan tenaga kita. Karena di dunia ini pasti ada satu hal yang hanya kitalah yang bisa melakukannya. Belajarlah, dan bekerjalah, asahlah segala kemampuan kita untuk menemukan jalan kontribusi kita itu.
Wassalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

Nikkou 2011

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Setelah kurang lebih satu setengah tahun tinggal di Gunma, akhirnya aku mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke salah satu objek wisata terkenal di prefecture Tochigi, yang berada di sebelah Timur Gunma, objek wisata terkenal itu adalah Nikkou(日光). Objek wisata yang berada di kawasan pegunungan itu, terdiri dari objek wisata alam, gunung, danau, dan air terjun, serta objek wisata sejarah dan budaya, yaitu shrine , dan temple.

Berikut adalah foto suasana bagian depan dari stasiun Toubu Nikkou,

Setelah sampai di stasiun tersebut, kemudian saya sarapan, dan membeli tiket bus yang bisa digunakan untuk seharian. Tujuan pertama adalah air terjun kegon no taki(華厳の滝), karena pada hari tersebut merupakan waktu paling pas juga untuk menikmati daun momiji yang sudah berubah warna, pengunjung cukup padat, sehingga terjadi kemacetan di daerah いろは坂, yang merupakan daerah dengan jalan yang dibuat menikung kira-kira 180 derajat yang dibuat terus untuk mencapai puncak tempat adanya danau dan air terjun.

Setelah kurang lebih naik bus selama satu jam, akhirnya sampailah juga di air terjun kegon no taki, air terjun ini memiliki ketinggian 97 meter, setelah puas menikmati air terjun dari atas, kemudian saya membeli tiket lift, dan naik lift untuk mengantarkan kami ke tempat air terjun itu jatuh. Subhanallah, terasa sekali tingginya air terjun tersebut ketika menikmatinya dari bawah. Berikut beberapa foto yang berhasil saya ambil,

Setelah itu saya berjalan ke arah danau chuuzenjiko, 中禅寺湖, air dari danau tersebut mengalir dan jatuh dari ketingginan yang kemudian menjadi air terjun 華厳の滝.

Saya kaget sekali melihat air danau yang sangat bening, sangat bersih. Danau tersebut dikelilingi oleh gunung-gunung.

Setelah selesai berputar-putar dan makan siang, saya kembali naik bus untuk melihat-lihat shrine dan temple yang berada lebih dekat dengan stasiun. Berikut pemandangan yang saya ambil dari bus, ktika bus berputar-putar melewati いろは坂.

Terlihat jelas betapa tajamnya belokan-belokan di いろは坂. Berikut salah satu pemandangan bagus juga ketika saya akan pulang ke stasiun,

Alhamdulillah, walaupun hanya sehari dan tidak bisa melihat semua objek wisata yang ada, saya bersyukur sekali bisa berkunjung ke Nikkou, dan melihat salah satu kebesaran Allah disana.

 

Wassalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Pisang Molen “Kiryu”

Assalammu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, tahun ini mendapatkan kesempatan lagi untuk membuka stan di acara festival tahunan Fakultas Teknik Universitas Gunma. Setelah tahun lalu berjualan pisang molen dan martabak telor, tahun ini kami memutuskan untuk membuat pisang molen dan cendol.  Tahun lalu, saya sendiri bertanggung jawab atas pembuatan martabak telor. Sedangkan seorang teman saya bertanggung jawab atas pembuatan pisang molen, dan dari beliaulah saya juga belajar cara membuat pisang molen.

Dari pengalaman tahun lalu, ternyata pembuatan martabak membutuhkan lebih banyak energi dibandingkan dengan membuat pisang molen, tapi kami berpikir untuk menambahkan sesuatu pada pisang molen, supaya ada sesuatu yang lebih dibanding tahun lalu. Maka kami mencoba melakukan percobaan, kira-kira bahan apa saja yang bisa ditambahkan kepada pisang molen supaya bisa lebih enak, dan menarik di lidah para pembelinya. Setelah mencoba-coba, akhirnya kami mengambil keputusan untuk memasukkan coklat ceres ke dalam pisang, dan menaburi pisang dengan keju, baru membungkusnya dengan adonan roti yang sudah ditipiskan, baru kemudian digoreng. Pada bagian atasnya kami taburi bubuk kayu manis dan gula, atau diberi coklat cair, atau susu cair.

Tentu saja, dari pengalaman tahun lalu juga kami mencoba untuk mempersiapkan dan mengorganisasikan festival tahun ini supaya bisa lebih baik lagi. Walaupun capek, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil, minimal jadi bisa membuat pisang molen..he..he..

Berikut keadaan para koki molen yang sedang melakukan percobaan,

Dan berikut adalah hasil percobaan kami,

Yang paling kiri diberi susu kental, yang tengah ditaburi bubuk kayu manis &serbuk gula, dan yang paling kanan diberi coklat kental.

Alhamdulillah, walaupun pada hari pertama cuaca mendung dan gerimis, kami berhasil menghabiskan satu kotak pisang untuk jualan hari tersebut, dan ternyata pada hari kedua cuaca sangat mendukung, pengunjung yang hadir pun tercatat kurang lebih 5000 orang. Untuk ukuran festival di desa sangat banyak sekali pengunjungnya.  Dan, teman-teman Indonesia yang bekerja dari kota sebelah pun hadir dan membantu proses pembuatan pisang molen. Masih sekitar jam satu siang, tapi pisang sudah mau habis, maka kami membeli pisang tambahan. Senang sekali banyak orang Jepang yang tertarik dengan pisang molen ini, bahkan ada yang sampai melihat proses pembuatannya dan minta diajari.

Berikut keadaan warung kami,

 

Alhamdulillah dalam kesempatan ini kami bisa memperkenalkan Indonesia melalui pisang molen, dan tentu kamipun membuat tulisan-tulisan lain untuk memperkenalkan Indonesia, supaya siapapun yang berkunjung ke warung kami bisa tahu tentang Indonesia,

Kami juga menyempatkan diri untuk berbincang dengan mereka yang hadir ke warung kami,

Terima kasih teman-teman atas kerjasamanya untuk menyukseskan warung Indoensia di festival tahun ini.
Mudah-mudahan bisa memberikan manfaat buat kita semua.