Ketika Nikmat Itu Dicabut



assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah, syukur seharusnya menjadi bagian dari setiap kehidupan manusia. Karena ketika semua nikmat yang kita dapat ini dicabut, maka kita bukanlah apa-apa. Kita hanyalah makhluk lemah yang tak berdaya. Namun, itulah manusia seringkali lupa dengan kewajibannya bersyukur kepada Allah.

Benar sekali kata-kata, bahwasanya suatu nikmat akan terasa ketika sudah dicabut daripada nikmat tersebut. Minggu ini, saya mengalami hal itu. Sejak hari ahad lalu, hingga hari selasa kemarin, Allah mencabut nikmat suara dari saya, tenggorokan yang sakit, ketika mencoba berbicara sekalipun, hanya suara aneh kecil yang terdengar.

Sudah 23 tahun lebih saya diberi nikmat kehidupan, dan sampai hari ini saya selalu menggunakan nikmat suara itu sehari-hari tanpa merasa apapun, tapi minggu ini, saya merasakan betapa besarnya nikmat bisa mengeluarkan suara, betapa besar nikmatnya bisa berbicara.

Selama, 2-3 hari, saya diberi cobaan tersebut, untuk berkomunikasi dengan orang lain sulit sekali, untuk membaca quran pun sulit sekali, untuk sekedar memesan makanan di restoran pun sangat sulit, untuk berbicara kepada teman pun sangat sulit sekali. Untuk bisa benar-benar mengeluarkan suara, saya harus benar-benar berusaha berbicara seperti teriak. Sempat saya berpikir, mungkinkah sejak saat ini saya tak akan bisa bersuara sama sekali. Akhirnya saya berusaha untuk mengisi hari-hari itu dengan mengevaluasi diri. Setiap teguran yang Allah berikan. pasti ada tujuannya.

Jika digolongkan, saya sepertinya akan termasuk ke bagian orang-orang yang senang melakukan pembicaraan, atau dalam bahasa Jepang, disebut おしゃべりな人。 Tentu saja hal ini ada baiknya dan ada juga buruknya. Yang baiknya adalah saya terbiasa untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan, ide-ide saya kepada sekitar. Saya juga terbiasa untuk membaca buku, menonton berita, dan mengumpulkan berbagai jenis informasi, tujuannya adalah agar jika ada kesempatan berbicara dengan orang lain, maka saya bisa mengikuti pembicaraannya.

Namun tentu saja dengan banyak berbicara, terkadang membawa lidah ini tak sengaja menyakiti orang lain, atau membicarakan hal-hal terlalu berlebihan. Orang-orang di sekitar saya mungkin “bosan” atau bahkan “muak” dengan pembicaraan dari saya. Harusnya saya bisa lebih mengerem lidah ini supaya jangan sampai melukai orang lain, tidak sampai membicarakan sesuatu yang berlebihan. Ya Allah, aku bersyukur atas semua teguranMu ini.

Alhamdulillah, hari ini kau kembalikan lagi nikmat itu, sehingga saya bisa beraktivitas seperti biasanya. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah.

wassalammualaikum warahmatullahi wabarkatuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s