Daily Archives: October 25, 2010

いじめ。。自殺

assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Setelah menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah, sore ini saya menyetel TV untuk menonton berita sore. Masih diawali oleh kabar dari 奄美大島 yang beberapa hari lalu dilanda oleh banjir bandang, yang menyebabkan longsor dan terputusnya jalan, saluran listrik dan saluran telepon. Sebagian besar penduduk terpaksa mengungsi, dan menyebabkan anak-anak terpisah dari keluarga, tidak bisa bersekolah. Dan hari ini cuaca cerah, penduduk mulai membereskan sampah-sampah yang disebabkan oleh banjir bandang itu. Anak-anak kembali bersekolah, dan dengan sangat senangnya berpelukan dengan teman-temannya. Begitu juga anggota keluarga yang bisa saling berkumpul kembali. Sangat mengharukan.

Tak lama setelah itu, tiba-tiba muncul berita tentang kota tempat tinggal saya, 桐生. Ada apa gerangan, dalam benak saya, sebuah berita yang sangat tidak ingin saya dengar, seorang anak perempuan kelas 6 SD, bunuh diri di rumahnya. Ternyata penyebabnya adalah いじめ(ijime),atau bullying. Saya menarik nafas ketika mendengar berita ini. Kenapa? Karena baru beberapa hari lalu saya juga mendengar curhatan dari anak-anak yang menjadi objek bullying.

Kasus yang terjadi di 桐生 ini, berawal ketika anak perempuan malang itu pindah ke SD yang baru pada saat kelas 4 SD, karena anak baru, dan memang tidak mempunyai teman di tempat itu, teman-teman yang lain memanggilnya tidak dengan nama, justru dengan sebutan 転校生(anak pindahan). Saat ini polisi sedang menyelidiki kasus tersebut. Pengakuan orang tua sang anak, bahwa beberapa akhir ini memang sang anak suka tidka masuk sekolah, dan jadi semakin pendiam, ketika ditanya apapun, hanya menjawab tidak ada apa-apa.

Masalah いじめ, memang bukan masalah baru, masalah ini menjadi salah satu masalah sosial di Jepang, karena masalah いじめ tak hanya terjadi di tingkatan anak-anak, bahkan di sebuah perusahaan sekalipun. Banyak hal yang menjadi penyebabnya, terutama adalah perbedaaan, terutama perbedaan secara fisik. Misalnya tinggi badan yang terlalu pendek, badan yang gemuk, suara yang aneh, atau wajah, dll. いじめ akan semakin menjadi-jadi jika si korban tidak memberikan “perlawanan”, atau tidak menacuhkannya, semakin lama membuat si korban semakin stress, dan tidak sedikit yang diakhiri dengan bunuh diri.

Untuk menyelesaikan masalah ini perlu kerja sama serius dari berbagai pihak. Pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat, juga pemerintah. Sekolah harus bisa memperhatikan betul, apakah di lingkungan sekolahnya terjadi いじめm atau tidak, jika ada harap melakukan penyelesaian yang tegas terhadap pelaku, dan memberikan bimbingan konseling kepada korban, dan yang terpenting lagi adalah kelurga, komunikasi antar anggota keluarga harus tetap terjaga, supaya setiap anak bisa terawasi kondisinya. Demkian masyarakat dan pemerintah juga harus mendukung terciptanya lingkungan yang bebas dari いじめ.

Advertisements