Percaya


assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Entah kenapa hari ini saya teringat dengan masa-masa SMA, masa2 yang menyumbangkan cukup banyak sumbangan bagi diri saya saat ini.  Ketika saya pikirkan, ternyata cukup banyak perbedaan antara masa SMP dan SMA. Kalau saya coba mengingat-ingat, rasanya kalau dipersentasekan, maka selama SMA itu saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar. Entah mengapa aktivitas di sekolah atau di tempat-tempat lain memiliki daya tarik yang sangat besar bagi diri saya.

Rasanya masih baru kemarin, saat ibu saya tiap hari mengingatkan saya yang setiap hari pulang malam, dan khawatir dengan nilai-nilai saya di sekolah. Selain MPK-OSIS, saya juga tergabung di ROHIS, lalu tergabung di PASKIBRA, dan sempat juga bergabung di KIR. Berkenalan dengan banyak orang, berbicara dengan banyak orang.

Ya, dalam waktu tiga tahun ini cukup banyak pembicaraan antara saya dan teman-teman sejawat. Dan hari ini saya teringat dengan salah satu pembicaraan di antara kami. pembicaraan yang sangat sederhana, tapi pembicaraan ini menjadi sebuah contoh bagi saya untuk menerangkan tentang sebuah kata yang mungkin biasa di Indonesia, tapi jadi kata-kata yang sangat sensitif di Jepang, yaitu “percaya”, pembicaraan ini berawal dari celetukan seornag teman, “eh,lo semua percaya gak kalau orang tua yang di rumah lo itu orang tua asli lo”. Serentak semua menjawab “ya percaya lah..masa gak percaya”. Lalu teman yang tadi bertanya, “buktinya apa?”. Tiba-tiba kami semua diam, dan berpikir…”di akta kelahiran tertulis kok kalau itu orang tua asli gw”, tiba-tiba ada salah seorang di antara kami yang melontarkan jawaban. “tapi akta kelahiran itu kan cuma ada nama aja, apa bener yang tertera disana itu nama lo, apalagi akta itu kan buatan”. Ada lagi yang menjawab,”buktinya adalah foto,foto waktu gw masih bayi”, tetapi teman yang bertanya masih tetap menyanggah,”mana buktinya kalau bayi yang di dalam foto itu lo”. Setiap pertanyaan kami, masih tetap saja dibantahnya. “Gw bukan ingin mempermasalahkan tentang keaslian orang tua kita yang di sekarang ada di rumah, tapi gw pengen ngasih tau, kalau yang namanya percaya, itu gak perlu bukti”,”kita semua percaya bahwa orang tua yang ada di rumah kita itu adalah orang tua kita, karenanya kita gak perlu bukti”. Lalu timbullah pertanyaan, kenapa kita bisa sampai tingkat percaya, sederhana saja karena kita punya ilmu, ilmu disini adalah kita memahami betul karakter, sifat, dan figur orang tua kita. kita tahu kalau kita setiap hari makan dirumah gratis, tanpa perlu membayar sama ibu kita, kita tahu betul kalau ayah kita bekerja setiap hari, dan uangnya digunakan  buat membiayai hidup keluarga. dan masih banyak lagi sifat dan karakter yang kita pahami dari keduanya, yang akhirnya membawa kita pada mempercayai keduanya sebagai orang tua kita.

Tak ubahnya kita sebagai seorang muslim, sejauh mana tingkat kepercayaan kita kepada Allah SWT, masihkah kita berteriak dan meminta bukti-bukti. Untuk mencapai tingkat kepercayaan yang tinggi, sama dengan kasus sebelumnya, kita harus punya ilmu, kita harus betul-betul mengenal Allah SWT, sifat-sifatNya,serta ayat-ayatNya yang ada di dunia ini.

wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

2 responses to “Percaya

  1. Subhanallah..smansa emang ga tergantikan bang =D
    Apalagi MPOS sama Rohisnya,, alhamdulillah.. 🙂

  2. yg penting mereka tetap ada dsamping qt,,kapanpun dan gmnpun..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s