Kenyataan…


Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sudah dua hari ini di salah satu stasiun televisi di jepang menayangkan acara khusus musim gugur ini, kemarin dibahas tentang pasangan suami-istri yang saling menyampaikan perasaannya lewat surat. Ada cerita tentang pasangan yang terpaksa harus berpisah karena zaman perang, ada cerita juga tentang seorang istri yang selalu menunggu suami pulang di saat zaman perkembangan ekonomi Jepang, karena pada zaman itu setiap pekerja dimanapun menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Atau cerita tentang seorang pasangan yang memulai usahanya bersama di sebuah desa di pedalaman, atau juga cerita tentang seorang istri yang tak pernah sekalipun marah kepada sang suami. Saya terhanyut ketika penyiar membacakan surat-surat tersebut. Salah satu yang paling berkesan buat saya adalah seorang suami yang ketika dalam keadaan kritisnya masih mengungkapkan perasaannya melalui kertas yang ada di dekatnya, walaupun tulisannya sudah sangat sulit dibaca.

Yang lebih menarik adalah cerita hari ini, cerita tentang pasangan, yang spesial. Karena keduanya adalah tuna netra. Keduanya dikaruniai dua orang putri, dimana putri yang pertama menuruni ke-spesial-an orang tua, terlahir dengan keadaan tuna netra. Sedangkan putri yang keduanya, terlahir sebagai anak yang biasa. Saat ini umur keduanya masih dibawah 5 tahun. Namun, mereka jauh lebih dewasa dari usia mereka. Mereka, dengan keterbatasannya tak pernah segan membantu sang ibu, diperlihatkan ketika kedua anak yang lucu-lucu ini membantu sang ibu yang sedang sibuk di rumah berbelanja. Si kecil yang bisa melihat, dengan sayang menuntun tangan sang kakak. Sang kakak yang lebih besar, dengan lancar berkata-kata.

Diperlihatkan juga, ketika sang ayah mengikuti lomba maraton 100 km, mereka sekeluarga mendukung dengan luar biasa. Ketika di perjalanan mereka bertemu sang ayah yang sedang berlari dengan sekuat tenaga ditemani oleh seorang pendamping, si kecil berteriak histeris mendukung ayahnya. Otousan..Ganbatte…Ganbatte… Hingga ketika sugata ayahnya mulai tak terlihat, si kecil menangis. Pertama kali untuknya melihat sang ayah yang sedang bersusah payah menuntaskan perlombaan itu.

Alhasil, sang ayah, menempati urutan ke-41 dari 1200 orang lebih peserta laki-laki. Sebagai informasi perlombaan ini adalah perlombaan umum, bukan khusus penderita tuna netra. Suatu prestasi yang luar biasa bagi sang ayah. Dan si kecil yang dari tadi menunggu2 kedatangan sang ayah di pintu finish langsung menubruk sang ayah, dan memeluknya.

Pada suatu hari sang ibu membuat surat kepada si kecil. Ia mengungkapkan perasaannya selama ini. Ia ingin mengatakan maaf, dan juga terima kasih. Ingin sekali ia melihat wajah si kecil yang amat disayanginya itu.

Lagi-lagi merasa ditegur, ketika seorang anak yang masih begitu belia, tumbuh menjadi dewasa karena segala keterbatasannya. Masihkan kita pantas mengeluh dengan segala kelebihan kita. Karena sebetulnya kita bukanlah kekurangan tapi kita masih belum pandai mensyukuri apa yang kita miliki.

Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

4 responses to “Kenyataan…

  1. Kemaren tentang sekolah yang mau ditutup, sekarang tentang cinta keluarga, dulu2 juga kalo ga salah bang syafril pernah beberapa kali mengulas acara tv di jepang..

    Kayaknya acara tv di jepang banyak hikmahnya ya,,

  2. akhir2 ini lagi seneng belajar sambil dengerin TV.. gak semuanya gt sih..pinter2 kita aja nyari saluran yang banyak ilmunya..

  3. wah, syafril boleh tuh jadi pengamat televisi…wkwkwkwk
    Sepertinya acara tv disana lebih bermutu daripada di Indonesia ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s