Daily Archives: September 4, 2008

Cerita pencarian seorang insan akan hakikat kebenaran

Assalamualaikum wr. Wb.

 

Semoga kedamain diberkahkan untuk saudara dan saudariku muslim semuanya.

Selamat siang, saya orang Jepang Muslim, nama saya Nisa

Saya lahir dan besar di Fukuoka, tetapi sekarang berdomisili di Kurume.

 

Pertama-tama, saya mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya untuk muslimah Fukuoka yang sudah mengundang saya hari ini.

 

Hari ini saya akan menceritakan kisah diri saya, kesan dan berbagi pengalaman. Menurut saya akan lebih baik semuanya diceritakan dalam bahasa ibu saya, bahasa Jepang. Sebagai ganti suami saya yang hari ini ada halangan karena pekerjaan, saya meminta bantuan adik Resti sebagai penterjemah hari ini.

 

Pertama kali saya mengenal “Agama Islam” dan “Muslim” bermula sekitar 14 tahun lalu. Saat itu saya sekitar kelas 1 SMU. Semua ini berkat para trainee yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Bangladesh yang belajr di sebelah sekolah saya. Saat itu saya sangat tertarik dengan hubungan internasional, dan langsung akrab dengan mereka.

 

Saat itu pulalah saya baru tahu kalau Indonesia dan Malaysia walau berbeda Negara tapi bahasa masih dapat saling mengerti. Saya tertarik dengan bahasa Indonesia, karena saya dengar kalau bisa bahasa Indonesia akan bisa paham juga bahasa Melayu. Saya yang saat itu hanya bisa bahasa Inggris, bahasa Indonesia terasa sangat baru. Saya berpikir kalau saya belajar bahasa Indonesia, wawasan saya juga akan semakin luas, dan dapat mencapai pengertian yang lebih baik dengan para trainee. Kemudian saya pun langsung pergi ke toko buku dan belajar bahasa Indonesia secara otodidak. Sekarang memang banyak buku untuk belajar bahasa Indonesia, tapi saat itu buku sangat sedikit dan yang saya beli buku percakapan wisata bahasa Indonesia. Kalimat pertama yang saya pelajari “Apa anda mengerti apa yang saya katakan?” Sampai sekarang pun saya masih ingat.

 

Saat berteman dengan mereka, jadi tahu kalau mereka tidak makan daging babi, melakukan ibadah shalat, dan para wanita muslim mengenakan jilbab dan walau panas sekalipun mengenakan baju lengan panjang dan celana panjang. Hal-hal kecil itu membuat saya penasaran, apakah itu budaya Negara mereka? Di Jepang tidak ada budaya seperti itu, saya jadi seperti anak kecil yang bertanya-tanya apa tidak apa-apa kalau saya tanya kenapa? Sopan tidak ya tanya begitu? Suatu hari saya beranikan diri bertanya dan jawaban dari mereka pendek saja, “karena kami muslim”

 

Muslim itu apa? Saat itu untuk pertama kalinya saya tahu kalau muslim=orang yang beragama Islam. Agama Islam…? Dalam benak saya saat itu sepertinya saya pernah dengar kata “Agama Islam” dan agak heran bukankah itu agamanya orang di Arab? Bagi saya Agama Islam terasa sangat jauh, dan agama yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang ada di jazirah arab.

 

Sejak saat itu entah kenapa para muslim dari Indonesia dan Malaysia makin banyak di sekitar saya. Dan berkat merekalah saya jadi bisa tahu lebih banyak mengenai ajaran agama Islam. Mengenai bulan puasa, shalat 5 waktu, makan bersama, sangat menghormati ibu, dan saling tolong menolong saat melihat ada yang kesusahan. Semuanya berjalan begitu alami dan membuat saya terkejut. Saya tidak yakin bisa lakukan yang mereka lakukan. Saat itu saya benar-benar terasa menjadi “Orang Jepang” yang terhenyak dalam perbedaan budaya.

 

Setelah itu saya pun melanjutkan ke perguruan tinggi. Karena universitas agama Kristen, kitab suci jadi salah satu mata kuliah wajib yang bahkan ada misa yang dilakukan dalam gereja. Karena saya bukan penganut agama Kristen, yang saya rasakan hanya kebosanan. Saya sama sekali tidak paham isi Injil. Yang saya rasakan di Injil hanyalah “cerita?” dan tidak tahu apa yang harus dipelajari dari isinya. Membaca saja sudah susah, tapi saya butuh nilai. Saya pun bercerita tentang mata kuliah itu ke seorang teman muslim. Dan kemudian dia pun bercerita.

 

Kau tahu? Injil itu isinya sudah berkali-kali diganti dan diubah. Tapi Al-Quran sampai sekarang tidak pernah diubah isinya atau ditulis ulang sekalipun. Tetap dalam bahasa Arab. Para muslim di seluruh dunia selama ini terus membaca al-Quran yang sama. Begitulah katanya.

 

Mendengar cerita bahwa al-Quran dalam sejarah yang selama ini tidak pernah diubah menggugah hati saya. Setengah percaya dan tidak, saya percaya mungkin ada baiknya jika saya pelajari lebih jauh tentang agama Islam, dan saya pun mulai membaca beberapa buku mengenai agama Islam.

 

Ternyata mereka tidak berbohong. Di banyak Negara memang ada berbagai “penterjemahan dan penjelasan” tapi al-Quran sendiri dilarang untuk diubah. Kemudian saya pun jadi tahu kalau para muslim di seluruh dunia membaca al-Quran, dan berusaha untuk menjaga keaslian isinya. Sebaliknya dalam agama Kristen, injil telah diubah dan diganti berulang kali. Entah kenapa tiba-tiba saja saat itu saya jadi yakin kalau yang harus saya pelajari bukanlah Injil melainkan agama Islam.

 

Berawal dari hanya membaca saya pun mulai berpikir bagaimana caranya bisa mempelajari agama Islam. Bukan hanya dari membaca tapi bagaimana caranya saya bisa benar-benar merasakan sendiri. Mendengar hal itu salah seorang teman dari Malaysia berkata, “Ibu saya mengajarkan car abaca al-Quran untuk anak-anak. Bagaimana mau coba datang ke Malaysia?” Benar juga ya, kenapa tidak pergi ke Negara muslim, berpikir begitu saya langsung memutuskan untuk pergi ke Malaysia. Setelah bekerja paruh waktu dan mengumpulkan uang untuk perjalanan, saat liburan musim semi saya melakukan perjalanan ke Malaysia, sendirian.

 

Keluarga teman saya menerima saya tinggal di rumahnya.

 

Saya pun berangkat ke Malaysia tanpa mengetahui apa pun, dan ternyata saya datang saat bulan puasa 3 hari menjelang lebaran idul fitri. Syukur alhamdulillah, ternyata itu jadi jalan yang ditunjukkan oleh Allah SWT, kepada saya. Di tempat saya tinggal, anak-anak belajar membaca al-Quran dengan giatnya. Sambil terkagum-kagum melihat anak-anak saya pun ikut gabung dan belajar iqro. Saya masih ingat saat itu saya sempat kaget melihat mereka sudah belajar mengenai agama Islam dari dini, tapi saya juga jadi paham kalau sudah dari sekecil itu wajar saja mereka jadi amat mematuhi ajaran Islam.

 

Kebetulan saat kedatangan saya di bulan Ramadhan, saya pun diajari makna dari berpuasa. Saya jadi ingin coba ikut berpuasa, dan memutuskan mulai keesokan hari sampai hari raya idul fitri akan ikut berpuasa bersama yang lain. Karena saya dengar kalau tidak berniat, puasanya akan sia-sia saja, dalam hati saya berkata dan membaca niat “Ajari saya agama Islam, melalu puasa, turunkanlah ajaran Islam pada saya.”

 

Keluarga tempat saya tinggal sempat mengkhawatirkan kondisi badan saya dan berkata, “Kalau berat, berhenti saja tidak apa-apa. Jangan memaksakan diri. Sudah niat mau ikut puasa saja kami sudah senang.” Tapi karena saya sudah tahu makna dari puasa, saya tidak bisa bilang berat, atau tersiksa. Saya ingin memahami penderitaan mereka yang tidak bisa merasakan nikmatnya makanan dengan mengalaminya sendiri melalui berpuasa. Saya benar-benar berpikir alangkah mudahnya ajaran Islam, ajaran yang sederhana ini terus dijaga dan diteruskan, ditambah dengan al-Quran yang tetap tidak berubah sampai sekarang. Betapa luar biasanya agama Islam. Sejak itulah saya mulai benar-benar serius memikirkan tentang agama Islam.

 

Sejak saat itu setiap ada yang tidak saya pahami saya selalu bertanya pada teman muslim, dan mempelajari agama Islam sesuai dengan kemampuan saya. Tapi terus tidak berani membaca dua kalimat syahadat dan hamper 4 tahun pun berlalu. Banyak hal yang membuat saya ragu, seperti, “Apakah tidak lebih baik jika pelajari lebih banyak tentang agama Islam baru masuk Islam?” Atau, “Bagaimana pendapat orang tua dan teman-teman kalau saya masuk agama Islam?” Atau, “Menjalani hidup sebagai muslim sepertinya tidak mudah…, dan lagi tidak ada teman orang Jepang yang muslim….” Dan banyak keraguan lain

 

Saya pun mencoba sebisa mungkin berpuasa sambil melakukan kegiatan seperti muslim lainnya, mencoba tidak memakan daging babi, dan menjalani hidup sambil berulang kali bertanya kepada diri sendiri apakah saya sudah siap untuk menjadi seorang muslim. Teman muslim yang memahami perasaan saya tidak pernah sekali pun memaksakan saya untuk masuk agama Islam secepatnya atau bertanya kapan saya akan masuk agama Islam. Mereka hanya berdoa dengan tenang untuk saya. Mereka semua mengatakan hal yang sama bahwa tidak ada gunanya memaksakan diri untuk masuk agama Islam. Jika memang sudah ada hidayah dari Allah SWT, pasti akan masuk dan berjalan di jalannya. Perkataan inilah yang meringankan perasaan saya kalau saya tidak perlu terburu-buru dan kalau memang Islamlah yang jadi kebenaran untuk saya, pasti jalannya akan terbuka.

 

Pada tahun 1999 saya bertemu dengan suami saya. Suami saya tahu rasa ketertarikan saya pada agama Islam, dan keraguan saya untuk memeluk agama Islam. Tapi kalau saya tidak bertanya, suami saya bukan tipe orang yang akan membanggakan agama Islam kalau Islam ini begini atau begitu. Sama sekali berbeda dengan muslim yang saya temui sampai saat itu, dan saya sempat ragu. Saat itu dia pun berkata, “Jangan menilai Islam dari perilaku muslim” dan itu membuat saya terkejut. Memang benar karena ada kesan yang menakutkan mengenai agama Islam.

 

“Walaupun muslim, tapi ada juga orang yang tidak benar-benar menjaga ajaran agama Islam. Melihat mereka dan berpendapat kalau hal seperti itu diperbolehkan dalam agama Islam, sangatlah disayangkan” Saat dikatakan begitu, saya merasakan walau tidak banyak berkata mengenai Islam, tapi betapa besar dan dalam cintanya kepada Allah SWT. Tanpa kata-kata sekalipun agama Islam itu luar biasa, perasaan suami saya itulah firasat saya berkata kalau saya akan masuk agama Islam dan menjalani sisa hidup bersama dengan dia.

 

Tahun 2000, saya bertekad untuk membaca dua kalimat syahadat. Bertempat di sebuah masjid kecil di Jakarta. Saat membaca dua kalimat syahadat, pak Kyai berkata, “Sekarang dirimu sudah menjadi seorang muslim. Sama halnya seperti bayi yang baru lahir. Dosa-dosa selama ini dihapus, dan memulai hidup yang baru sebagai seorang muslim.” Mendengar hal itu perasaan saya jadi sangat terenyuh dan airmata pun mengalir sambil mengingat kedua orang tua saya yang sampai detik terakhir tetap tidak bisa menerima keputusan saya untuk menjadi seorang muslim dan mulai sekarang saya akan menjalani hidup sebagai seorang muslim.

 

Satu bulan setelah itu saya melakukan akad nikah di Lampung, dan resmi menjadi suami istri. Sebenarnya suami saya berasal dari Sumatera Selatan, tapi karena saya orang Jepang dikarenakan alasan administratif saya melakukan akad nikah di Lampung yang dekat dengan Jakarta. Kepada suami dan keluarga suami saya minta untuk akad nikah bagaimana pun juga saya ingin diadakan di Masjid. Jika pernikahan dan menjadi seorang muslim ini yang telah mengubah hidup saya dengan drastic dapat dilakukan di masjid, saya yakin kalau Allah akan melimpahkan berkatnya pada kami. Entah kenapa tapi saat itu saya benar-benar yakin.

 

Di masjid itu kami jadi pasangan Indonesia dan orang asing pertama di sana, dan banyak orang yang datang menghadiri akad nikah kami. Saya merasakan cinta dalam bentuk yang berbeda dari orang Indonesia yang telah menerima saya yang datang sendirian dan menjadi muslim seperti bagian dari keluarga. Mungkin ini yang disebut dengan persaudaraan semuslim.

 

7 tahun sudah berlalu sejak saya menjadi seorang muslim. Setelah tinggal di Indonesia selama 1 tahun dan kembali ke Jepang, pada awalnya saya tidak memakai jilbab. Saya mulai memakai jilbab 6 tahun yang lalu, bersamaan dengan saat terjadinya kecelakaan pesawat 11 September. Media massa memang langsung mengucilkan agama Islam, tapi saya sama sekali tidak merasa malu. Saya berpendapat kok mereka aneh menyamakan Islam dengan teroris. Berpikir begitu, saya bahkan jika keluar rumah tanpa jilbab, saya justru jadi malu. Dengan memakai jilbab saya jadi merasa terlindungi dan aman.

 

Begitu mendengar tekanan yang dirasakan para muslim di Amerika, kedua orang tua saya mencemaskan saya yang keluar dengan mengenakan jilbab dan takut kalau orang tahu saya mulim saya akan diperlakukan secara tidak sopan. Selain mencolok dan memerlukan keberanian diri, tapi entah kenapa saya merasakan keamanan, sama seperti halnya mengenakan pakaian. Kedua orang tua saya pun sepertinya sudah terbiasa dengan jilbab yang saya kenakan.

 

Tapi dalam keluarga Jepang sepertinya masih butuh waktu lagi untuk dapat menerima Islam sebagai agama diri sendiri. Pada awalnya mereka memang sangat menentang, tapi syukurlah mereka sekarang bahkan sangat memperhatikan makanan kami. Ibu saya berkata, “Saling memahami, dan itu melewati dinding agama maupun ras.”

 

Saat bertemu dengan teman orang Jepang sekalipun saya selalu membiasakan diri untuk pergi dalam busana muslimah, karena kita tidak tahu siapa tahu akan ada kesempatan saya bisa memperkenalkan agama Islam. Untungnya teman-teman saya sudah tahu kalau sudah sejak lama saya mempelajari agama Islam, dan mereka terus berteman dengan saya tanpa ada prejudice. Saat ada jamuan kami sekeluarga juga diundang. Saya beruntung bisa memiliki teman yang saling memahami. Saya yakin jika teman dan keluarga di sekitar saya dapat memahami Islam sedikit demi sedikit, gambaran mengenai agama Islam juga akan berubah.

 

Saya sering mendengar dari orang Jepang kalau Islam itu mempunyai imej yang lebih menakutkan. Begitulah bukti betapa Islam sangatlah asing bagi orang Jepang. Tapi ajaran Islam sesungguhnya amatlah mirip dengan ajaran moral yang dipercaya orang Jepang dahulu. Karena dunia jadi begini praktis dan mungkin banyak orang Jepang yang sudah lupa, saya merasa mungkin Islam sangat cocok untuk orang Jepang. Bagaimana menurut saudara-saudari sekalian?

 

Yang saya cemaskan sekarang adalah pendidikan agama Islam untuk kedua putra saya. Berhubung saya sendiri bukan muslim dari lahir, pengetahuan saya tentang Islam pun terbatas, dan selalu cemas apakah saya mengajarkan hal yang salah kepada anak-anak. Soal diri sendiri saja saya masih bingung, tapi banyak juga yang datang dan meminta pendapat saya. Sebagian besar dari para wanita Jepang yang menikah dengan orang Indonesia. Seharusnya jadi tempat bertanya, tapi seringnya saya juga tidak tahu jawabannya. Di Fukuoka ada pertemuan iqro sebulan sekali antara suami istri orang Jepang dan Indonesia, dan kami juga melakukan belajar agama Islam bersama. Tapi akankah baiknya jika ada kesempatan buat para istri yang orang Jepang yang sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai Islam dapat mempelajari Islam dengan mudah dalam bahasa Jepang. Saya yakin para ibu-ibu orang Jepang akan merasa sangat tertolong. Jika masjid sudah ada, saya akan amat senang jika saudara-saudari sekalian dapat menolong para ibu-ibu Jepang yang walau sudah masuk agama Islam tapi masih belum begitu memahami tentang agama Islam. Saya mohon bantuannya.

 

Ceritanya jadi panjang, dan sepertinya akan saya akhiri sampai di sini. Jika ada pertanyaan saya dengan senang hati akan mencoba menjawab. Saya juga minta maaf jika ada salah perkataan. Saya sangat bersyukur sudah dikaruniai waktu ini bisa berbagi dengan saudara saudari sekalian di sini.

 

Semoga berkah dan ridho dari Allah SWT, dilimpahkan untuk kita semua

 

Wassalamualaikum wr. wb

Advertisements