I can do it


assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Manusia memang makhluk yang memiliki keterbatasan, dan setiap pribadi akan memberikan batasan pada dirinya masing-masing. Semuanya seringkali berawal dari pola pikir. Pola pikir, cara berpikir adalah sebuah kotak tempat dimana setiap pribadi hidup dan menjalani hidupnya. Seringkali setiap orang dibedakan dari perbedaan cara berpikirnya. Salah satu yang memang menjadi tolak ukur dari berkembangnya cara pikir seseorang adalah tingkat pendidikannya. Tapi tingkat pendidikan bukanlah satu-satunya faktor penentu. Cara berpikir seseorang akan sangat ditentukan oleh buku-buku yang dibacanya, orang-orang yang ditemuinya, serta kejadian-kejadian yang dialaminya.

Kita memang tidak hidup di alam matematika, dimana dengan mudah kita bsia mengatakan bahwa 1 ditambah 1 sama dengan 2, tapi bukankah ketidakpastian adalah seni dari kehidupan. Tetapi ketika kita coba belajar dari orang-orang sebelum kita, ternyata banyak aturan main dalam kehidupan yang walaupun tak sepasti hukum matematika, tetapi dia tetap dan tidak mengalami perubahan dan hampir semua orang setuju dengannya, seperti keberhasilan yang memang tak pernah berteman dengan kemudahan, tetapi justru tinggal bersama dengan kesulitan.

Bagi saya tak terlalu penting dimana kita berada, dimana kita tinggal, ataupun berapa banyak uang yang kita miliki, karena modal kehidupan kita yang hakiki adalah waktu yang terus bergerak setiap detiknya yang kita semua tak tahu sampai kapan kita masih bisa bersamanya, modal lainnya adalah neuron-neuron yang saling terkoneksi di dalam kepala kita, serta segumpal daging yang ada di dalam tubuh kita, yang menjadi raja bagi diri kita.

Untuk menjadi lebih besar tentunya kita harus bisa mendobrak kotak “pola pikir” kita yang selama ini membatasi diri kita, jangan biarkan kurva kehidupan kita harus mengurangi gradiennya ketika dia baru saja mulai menanjak. Kita harus menyadari bahwa punya mimpi adalah awal, dan mewujudkannya adalah cita-cita. Orang-orang berhasil pada kenyataannya lebih banyak mengalami kegagalan daripada orang gagal, dan jangan mengatakan kalau kita gagal ketika kita belum pernah mencoba, jangan pernah katakan gagal ketika kita baru mencoba sekali saja, atau dua kali saja, bukankah bola lampu merupakan hasil dari ribuan percobaan yang gagal.

Setiap kita adalah spesial, kita tak perlu menjadi sepintar Einstein, atau kita tak perlu mampu berpidato sepandai Hitler atau Soekarno, kita tak perlu menjadi mereka-mereka yang namanya telah tercetak dalam tinta emas sejarah kehidupan manusia, jika kita ingin berhasil kita cukup menjadi diri kita saja. Mengapa kita harus saling membandingkan satu sama lain kalau pada kenyataannya kita semua berbeda, yang perlu kita lakukan sebenarnya belajar dari orang lain, karena usia kita terlalu singkat ketika kita harus belajar semuanya dari pengalaman diri kita sendiri.

Kemudahan, kesulitan, jatuh, bangun adalah keniscayaan dalam kehidupan tetapi menjadi bahagia adalah pilihan kita masing-masing.

Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

4 responses to “I can do it

  1. yap… kita bisa! 🙂

  2. Paragraf pertama mirip banget sama omongannya Bang Ahad 🙂

  3. Sipp…
    Setiap kita itu spesial.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s