Daily Archives: June 28, 2008

試してみませんか?

“Kalau syafril kuliah ke Jepang gimana ya?”,tanyaku.
“Jepang,,,kok jauh banget”,,jawab ibuku dengan sedikit raut kebingungan di wajahnya.”baru saja kamu dapet beasiswa dan tinggal di asrama ppsdms,masa sekarang mau pergi lagi”,tambahnya.
Demikian kira2 potongan pembicaraanku dengan ibuku, bulan agustus dua tahun lalu, beberapa hari setelah aku mendapatkan telepon dari Kedubes Jepang,bahwasanya aku lolos ujian wawancara. Permintaan maaf yang besar buat beliau karena aku merahasiakan keikutsertaanku dalam tes beasiswa Monbusho. Waktu berjalan begitu cepat,,,keberadaanku di rumah semakin jarang,karena aku terikat kontrak ppsdms untuk tinggal di asrama,dan hanya diizinkan bermalam di rumah setiap hari minggu saja…walaupun begitu jarak asrama dan rumah yang begitu dekat,15 menit dengan sepeda motor aku akan tiba di istanaku itu. Dan kalau memang sedang tidak padat kuliah, akan kau sempatkan untuk makan siang di rumah. Menyantap masakan terenak di dunia ini.

Hari demi hari kulewati,,,hingga tiba saatnya saya harus benar2 meninggalkan rumah dalam jarak yang cukup jauh, dan dalam waktu yang memang terbilang cukup lama,, tapi,,hari itu, kami  melampiaskan semua perasaan kami dengan senyum,dan lambaian tangan..tak ada air mata sore itu..semua tersenyum.. mempercayakan semuanya pada yang Kuasa, kalau suatu hari kami bisa dikumpulkan kembali.

Kalau saya pikir-pikir, Allah telah menyeting luar biasa, Dia tak begitu saja memisahkan aku dengan rumah. Dalam grafik waktu, terbentuknya “jarak” antara aku dengan rumah dimulai dari masa SMAku. Ketika aku mulai terbiasa pergi sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari turun dari peraduannya. Tapi,lebih dari apapun juga hal yang paling saya syukuri adalah hadiah terbesar ibu yang diberikannya kepadaku. Hadiah itu diberikannya bersama cinta kepada anaknya yang aku tahu tak akan pernah mampu kubalas.

semester pertamaku saat kelas satu SMA, merupakan salah satu masa tersulit, karena banyak perubahan yang ternyata cukup besar antara kehidupan SMP dan SMA. Perlahan aku mulai banyak telibat aktivitas di SMA. Waktu pulang ke rumah pun semakin lama semakin terlambat. Awalnya, ibu begitu khawatir dengan keadaanku. Maklum, letak SMA cukup jauh dari rumah, harus naik angkot dua kali, lalu harus melewati salah satu daerah paling rawan di Depok,terminal,dan stasiun. Belum lagi, ibuku mengkhawatirkan masalah makanan, ya,karena beliau tahu persis saya punya penyakti maag.. sekali saja saya merusak keteraturan jadwal makan saya, bisa dipastikan ada gangguan yang bakal terjadi.

YA, enam bulan pertamaku di SMA, mungkin cukup banyak teguran dan kata-kata kekhawatiran yang kuterima,,,sebagai seorang anak, yang memang kurang mengerti saat itu,,sempat juga merasa bosan dengan kata-kata itu…Namun,,,semua itu tak berlanjut seperti yang kuperkirakan,,,terlebih setelah kubuktikan bahwa aktivitasku di luar belajar sama sekali tak menggangu prestasiku di sekolah…Ya, ibu lebih banyak diam dibandingkan enam bulan pertama itu.

Sempat terpikir, mungkin ibu marah padaku, yang semakin lama semakin jarang berada di rumah. Perkiraanku salah,,,jawaban sebenarnya ternyata kudapatkan di akhir-akhir tahun ku di SMA. Ternyata itulah cari ibuku menjagaku, ibu menjagaku yang sudah mulai tumbuh besar ini, tidak dengan mendekapku di pelukannya seperti ketika aku masih balita. Tapi beliau justru mendekapku dengan “kepercayaan”. Ya,beliau hadiah “kepercayaan” itulah yang jadi hadiah yang paling kusyukuri. Diamnya beliau bukanlah kebencian, tapi matanya berkata “Ibu tahu kau sudah besar,dan sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk, ibu percaya kalau yang kamu lakukan di luar rumah,semua adalah hal yang akan bermanfaat suatu hari bagimu.”

Dan tentu saja, hadiah itu tak aku sia-siakan. Paling tidak kubuktikan padanya dengan prestasi belajarku di sekolah, prestasiku di organisasi. Tak akan kubuat beliau khawatir dengan kesehatanku, kuingin setiap kali bertemu dengannya maka dia tersenyum padaku. Dan kini, hadiah sekaligus pelajarannya itu sedang coba kuterapkan dalam bergaul dengan siapapun. Ya,,,jagalah orang-orang disekitarmu, dekaplah mereka dengan “kepercayaan”, berikanlah kepercayaan pada mereka,percayailah mereka…

“Tapi saya takut dikhianati”,”tapi saya takut suatu hari nanti dikecewakan”, kata-kata itu yang selalu muncul ketika saya membicarakan hal ini pada orang-orang. Bukanlkah kedua hal yang disampaikan itu merupakan hal yang sangat manusiawi seandainya terjadi. Ya..kita tak boleh menutup mata kalau kita sedang bergaul dengan manusia..makhluk yang tak bisa terlepas dari salah dan lupa…yang tak lepas dari khilaf dan dosa…

Karena ada keyakinan yang kupegang,manusia,ketika dipercayai, sesungguhnya dalam hatinya tumbuh perasaan yang kuat untuk menjaga kepercayaannya itu. Bukankah diri kita pribadipun ingin dipercaya oleh orang lain..maka hal yang sangat manusiawi ketika kita memberikan kepercayaan itu..

*Jika cinta dibangun oleh 10 buah unsur maka,5 diantaranya adalah kepercayaan, maka cintailah orang-orang disektar kita dengan mempercayainya.

Advertisements