自給自足物語


assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Setelah siang tadi,banyak buka2 buku dan menghafal pelajaran-pelajaran hafalan, berhubungan mulai Rabu besok saya UTS sampai hari Jumat,akhirnya sore tadi saya sempatkan untuk nonton TV,karena memang sudah cukup lama sekali saya gak menonton TV. Kali aja dapet hal2 menarik..

Setelah berganti2 channel,,akhirnya saya sampai pada salah satu acara televisi yang mengankat cerita tentang 自給自足,yang kalau diartikan ke bhs Inggris self-sufficiency(maklum susah juga nyari bhs Indonesianya). Cerita pertama tentang seorang gadis lulusan Kyoto Daigaku(salah satu universitas terbaik di Jepang) yang akhirnya memutuskan untuk hidup dan menetap di salah satu desa yang kemudian bekerja sebagai petani, setiap hari mengolah sawah,dan ladangnya, juga memelihara dengan baik kambing2nya, memeberi makan, memerah susunya…

Cerita kedua,yang paling membuat saya cukup terkesan..Kali ini tentang sebuah keluarga, yang selama 18 tahun tinggal di sebuah bukit di dekat pantai, mereka hidup tanpa listrik, mereka hidup tanpa gas, atau saluran air, telepon dan lain-lain.. ketika presenter acara itu menanyakan ttg kehidupan seperti itu… dengan enteng sang ayah menjawab,, kalian jangan melihat hanya di Jepang saja..sesungguhnya kalau kita melihat secara dunia, maka orang yang hidup tanpa listrik,dll itu lebih banyak jumlahnya. (gak tau sih itu bener atau gak), kemudian sang istri menambahkan,,gak ada yang berubah dari kami hanya karena kami menjalani kehidupan seperti ini,,, saya cukup terkesan karena memang wajah yang ditampilkan oleh kedua pasangan yang telah memiliki anak 4 orang tersebut, wajah yang sangat bahagia, wajah yang tanpa tekanan, wajah dengan kemerdekaan…begitu pun keempat anak mereka, sang anak masih tetap bersekolah seperti anak2 lainnya(walaupun harus menuruni bukit dan menaiki bukit setiap harinya). Dan ketika ditanya ttg pekerjaan, sang ayah memang tak memilki pekerjaan tertentu selain mengurusa ladang, mengurus hewan2 peliharaan…kemudian sang ayah berkata..okane wa sonna ni iranai.. Hampir saya tidak percaya masih ada orang yang bisa bilang kayak gitu,,apalagi di Jepang…mungkin walau sekedar umpatan,,tapi kata-kata yang selalu saya dnegar,,Okane hoshii naa,,
Walaupun akhirnya kehidupan mereka ditengah bukit harus berakhir di tahun ke-18 itu,,,mereka kemudian pindah ke rumah peninggalan orang tua sang istri,namun semua tak banyak berubah,,mereka masih dengan kesederhanan,,,kejernihan mata-mata yang mereka pancarkan,,Ya,,entah apa yang berbeda,,tapi mata hati saya mengatakan mata-mata itu berbeda dengan mata-mata yang saya biasa lihat sehari-hari.. satu hal,yang jd menarik buat saya..satu kebiasaan yang mereka pelihara..mereka selalu berdoa sebelum makan,,baik ketika mereka masih tinggal di gunung, yang mengambil makanan dari apa yang ada di ladang mereka, atau dari pantai di dekat rumah mereka, ataupun ketika mereka sudah pindah ke tempat mereka yang sekarang..

Sedikit membuat saya malu,,yang terkadang masih lupa membaca doa ketika ingin makan,,yang masih sering lupa arti bersyukur..dan kembali mengingatkan saya bahwa Allah telah dengan adil membagi rezeki setiap hambanya,,,Hari ini saya melihat orang-orang yang tidak terpenjara oleh dunianya, karena bukan dunia yang mengatur mereka, tapi mereka yang mengatur dunia.

Advertisements

3 responses to “自給自足物語

  1. film atau kisah nyata mas ?

  2. makasih nih mas buat sharingnya.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s