Menanam pendidikan adalah menuai generasi


Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hari Rabu menjadi salah satu hari yang membosankan bagi teman-teman saya, karena pada hari itu tak ada praktikum di lab komputer. Ditambah lagi dua hari sebelumnya merupkan dua hari yang paling menyenangkan karena kuliah hanya sampai jam 12.10. Bagi kami yang belajar informatika ini, memang praktikum di lab komputer menjadi  hal yang paling menyenangkan, ditambah lagi ketika kami diberi soal praktikum yang cukup memeras otak , dan akhirnya berhasil kami pecahkan sendiri. Tapi buat saya Rabu menjadi hari dimana saya punya kesempatan untuk pulang dulu sebelum melakukan part time. Maklum saja pada hari Selasa saya ambil kelas tambahan bahasa Jepang sehingga tidak sempat untuk pulang dulu sebelum baito. Sedangkan hari Kamis dan Jumat pun kuliah sampai sore. Paling tidak hari ini saya bisa makan di rumah(lebih murah daripada harus makan di luar).

Setelah kelas software selesai, langsung saja saya ngeloyor keluar, sambil mendengarkan musik, saya berjalan santai menuju stasiun, sambil berharap mudah2an kereta gak telat.. Alhamdulillah jalur yang saya lewati tak ada masalah, jadi semua bergeral sesuai jadwal. Maklum saja salah satu jalur yang saya lewati cukup sering terjadi keterlambatan (kebanyakan disebabkan oleh adanya kecelakaan (baca:bunuh diri)). Saat itu waktu masih menunjukkan pukul 4 sore, masih ada 3 jam sebelum baito. Seperti biasa saya memilih untuk berdiri di dekat pintu di sebelah tempat duduk yang paling ujung, di dekat besi penyangga untuk tempat menaruh barang bawaan di atas kursi tempat duduk.  Walaupun berdiri di dekat pintu saya mengusahakan untuk tidak mengganggu para penumpang yang keluar masuk. Sambil mendengarkan musik pop Jepang yang mengalun lembut dari balik earphone,saya menikmati pemandangan yang memang setiap hari saya lihat…sambil berharap mungkin saja ada hal baru yang bisa saya temukan..

Di salah satu stasiun, naiklah seorang bocah laki-laki yang kalau dilihat dari penampilannya adalah siswa SD. Siswa SD di Jepang memang cukup mudah dikenali, yang dari dulu menarik perhatian saya adalah, tas kulit kotak yang cukup besar yang selalu mereka gendong di punggung mereka. Kalau dulu pernah saya tanyakan mengapa semua menggunakan tas kulit,alasan utamanya adalah awet.. kata sensei saya, dulu selama enam tahun masa SDnya dia menggunakan tas yang sama. Sesudah memastkan tempat yang nyaman baginya di dalam kereta, ia kembali membuka buku yang dipegangnya, dan memusatkan perhatiannya penuh pada deretan kanji dari atas ke bawah yang dulu sering membuat saya capek ketika membaca buku Jepang, maklum saya terbiasa dengan tulisan dari menyamping bukan menurun. Saya menggeser sedikt tempat berdiri saya untuk memberi anak itu posisi yang pas agar dia bisa mendapat pegangan ketika kereta yang kami naiki kadang berguncang ringan.

Dari pakaian yang ia kenakan saya menebak bahwa dia bersekolah di SD negeri, karena salah satu yang membedakan anatara SD negeri dan swasta adalah seragam, SD negeri tidak menggunakan seragam sedangkan SD swasta ada seragamnya. Pikiran saya tiba-tiba melayang pada pembicaraan saya dan teman saya tentang pendidikan dasar di Jepang, salah satunya adalah pelajaran bahasa Jepang di sekolah-sekaloh Jepang ternyata tidak seperti sekolah-sekolah bahasa Jepang untuk orang asing dimana dipelajari secara detil tata bahasanya… pelajaran bahasa Jepang,atau kokugo(sebutan mata pelajaran di sekolah Jepang), terutama untuk anak SD, selain mempelajari kanji dan tata bahasa yang dasar sekali, mereka lebih banayk ditekankan untuk membaca. Kalau teman saya bilang yang dia ingat pelajaran kokugonya waktu SD adalah membangun yomu chikara(kemampuan membaca). Banyak sekali mereka dicekoki oleh berbagai jenis monogatari. Maka tidak heran kalau membaca menjadi budaya yang melekat di masyarakat Jepang.  Naik kereta dimanapun dan kapanpun kita masih bisa menemukan orang yang membaca buku,kereta yang larut sekalipun.

Lalu teman saya kaget waktu saya ceritakan kalau di SD Indonesia itu ada Kimatsu Shiken, alias ujian akhir semester(atau waktu zaman saya ujian akhir caturwulan). Karena kata seingat dia waktu SD, tes itu gak lebih dari sekedar kakunin tesuto (tes evaluasi/mirip ulangan biasa saja.).  sampai saat ini Jepang masih menggunakan sistem caturwulan. Oh iya, sekolah negeri di Jepang gratis sampai tingkat SLTP..

kalau ada kesempatan saya ingin tahu lebih banyak lagi seluk beluk pendidikan di Jepang, karena memang masih banyak hal-hal menarik yang masih belum sempat saya cari tahu alasannya kenapa begini dan kenapa begitu..

kembali saya dari lamunan saya, karena ternyata kereta sudah sampai di stasiun dimana saya harus turun di sana untuk kemudian lanjut naik sepeda lagi sebelum sampai ke asrama tempat tinggal saya sekarang. Sambil memikirkan apa yang akan saya masak ya hari ini..mungkin nasi goreng…

wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh

*teringat saya kata-kata bapak Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat saya saya masih SMA
“Menananam pendidikan adalah menuai generasi”

Advertisements

2 responses to “Menanam pendidikan adalah menuai generasi

  1. “Menananam pendidikan adalah menuai generasi”
    sepakat…

    pendidikan yang baik tentunya akan menghasilkan generasi yang baik.

    Soalan pendidikan Jepang, aku kenal dengan ibu Ani Iwasaki, kadang juga YM-an. Setahun yang lalu beliau ada mampir beri lecturing buat guru di sekolah tempatku ngajar.
    Sedikit tentang bu Ani bisa lihat di http://wwwstd.ryu.titech.ac.jp/~indonesia/tokodai/guest/reportase.htm
    Intinya, beliau ingin memajukan pendidikan berakhlakul karimah di Indonesia melalui keluarga sebagai lini pendidikan paling awal, sama seperti pendidikan di Jepang yang walaupun bukan negara Islam tetapi banyak lini kehidupan mereka yang jauh lebih islami.
    Salut memang…

    tapi,
    nyebut-nyebut soalan bunuh diri di tulisan akhi di atas, jadi keingetan juga pernah nanyain ke ibu Ani soalan kasus bunuh diri pelajar di Jepang yang banyak terjadi dengan korelasi pendidikan disana yang sudah sebegitu bagusnya… waktu itu jawaban beliau kurang memuaskan, tapi mungkin kembali kepada aqidah juga kali ya…

  2. Investasi pendidikan adalah Lankah TERCEPAT dan TERMURAH untuk mencapai kemajuan. Cukup 25 tahun intensif pendidikan (1 generasi), wajah Indonesia akan sangat berubah. Pendidikan adalah Akhlak, budaya, dan teknologi.

    Dimas P Prabowo,S.T.
    Smart Mark Reader™
    adalah software profesional terlengkap dan terakurat untuk mendesain dan membaca Lembar Jawaban Komputer (LJK) menjadi data, serta memeriksa, menilai dan menyediakan laporan analisisnya, menggunakan scanner berbasis gambar digital. Telah dipergunakan untuk UASBN, UAN dan PAKET ABC.
    Phone : 08157 22 44 100
    PT. Software Farmer Indonesia, Bandung – Jawa Barat
    http://www.smartmarkreader.com
    email : support@smartmarkreader.com
    Yahoo Messanger : smr_marketing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s