Bukan sekedar



assalammualaikum,wr,wb
24,25 agustus yang lalu dapat kesempatan untuk melihat fuji san lebih dekat, dan dapat kesempatan untuk merasakan pendakian di gunung tertinggi di jepang, pendakian memang hanya dibolehkan selama musim panas saat bulan Juli dan agustus. Oleh karenanya, hampir dipastikan dalam dua bulan itu pengunjungnya berlimpah ruah, sama saat kemarin aku melakukan pendakian, buanyak sekali yang melakukan pendakian, kelihatan seperti semut yang sedang berbaris berjalan, karena memang barisan pendakiannya tak pernah putus, mereka dari berbagai negara dengan berbagai bahasa, dan berbagai usia pun menikamati pendakian.

Pendakian dimulai pada pukul 23.00, dari pos kelima pendakian gunung fuji dengan ketinggian sekitar 2500 meter.sedangkan tingggi gunung fuji sendiri 3776 meter. pendakian yang kemarin dilakukan adalah pendakian yang diselenggarakan oleh sekolah, yang akhirnya diikuti oleh 5 orang, 3 orang laki-laki, dan 2 orang perempuan.

Dari mulai ketinggian di pos kelima, sudah mulai jarang tumbuh-tumbuhan, para pendaki ditantang oleh udara dingin dan tipidnya udara, tak sedikit yang akhirnya membeli tabung-tabung oksigen kecil.

Untukku sendiri tantangan tipisnya udaralah yang baru pertama kali kurasakan, sebelumnya memang pernah melakukan hiking, di Indonesia, gunung salak, hingga kawah ratu, dan beberapa waktu lalu sempat juga melakukan hiking di daerah nishi tokyo yang memang penuh dengan pegunungan, yang ketinggiannya 600-1000 m, namun saat-saat itu udara masih terasa tidak jauh berbeda, namun kemarin, saat mengambil nafas, terasa sekali tipisnya udara.

alhamdulillah, kondisi cuaca yang sngat bersahabat membuat perjalanan terasa lancar sekali, walaupun bagi beberapa orang diantara kami, ini merupakan pengalaman pertama, tapi mereka menunjukkan semangat yang luar biasa…
mendaki gunung merupakan hal yang dari dulu ingin sekali kucoba, namun entah kenapa selama di Indonesia belum banyak kesempatan yang kudapat,
hiking pertamaku ke gunung salak, luar biasa rasanya, berjalan menembus hujan yang turun dengan deras, dengan kiri, dan kanan hanya terlihat tumbuhan hijau yang lebat, akhirnya setelah mengahabiskan waktu sekitar 7,8 jam berjalan kaki, sampailah di tempat tujuan, bukannya jera, tapi sejak itulah, tumbuh kecintaan terhadap hiking, pendakian gunung.

Mendaki gunung buatku bukan sekedar menghabiskan waktu luang, atau menikmati pemandangan. Lebih dari itu, mendaki gunung juga sebuah proses penaklukan terhadap diri sendiri, sebuah proses untuk menguasai diri sendiri, dihadapkan pada keadaan yang amat sulit, dimana semakin lama tantangan semakin bertambah, namun berhenti pun tak bisa menyelesaikan masalah. Mengalahkan segala rasa yang mengajak kita untuk menyerah, belajar mengobarkan kembali api semangat yang makin lama semakin redup. menaklukan segala rasa sakit yang diderita oleh tubuh, untuk terus mengayunkan langkah, sberat apapun, sesulit apapun. terlebih lagi bagi sebuah team, mendaki bersama, baik berangkat , diperjalanan, ataupun saat kembali. dimana keadaan anggota team berbeda satu sama lain, apa yang dirasakan pun berbeda satu sama lain, selain berusaha untuk tetap membuat diri sendiri melangkah, tapi tetap berusaha terus memotivasi anggota yang lain, membangkitkan semangat yang lain, tapi juga mengerti apa yang mereka rasakan, saat salah seorang memang harus istirahat, maka mau tak mau semua beristirahat. tak bisa hanya memikirkan diri sendiri, tapi memikirkan semua.

Mendaki gunung sesulit apapun, makin lama makin kunikmati, karena sebuah pelajaran langsung tentang kehidupan, yang terus mengingatkan aku untuk melangkah sesulit apapun keadaan yang aku rasakan, yang terus mengingatkan aku bahwa istirahat itu bukan untuk berhenti, tapi untuk menyiapkan langkah yang lebih besar lagi, untuk menyiapkan langkah yang lebih cepat lagi, setiap pendaki punya satu tujuan yaitu puncak gunung, demikan kita dalam hidup ini, salah satu cara untuk bisa membuat pendakian adalah dengan mempunyai puncak yang ingin kita capai, juga mengingtkan kita bahwa kita diciptakan bukan untuk hidup sendiri, tapi untuk hidup berdampingan, saling mengenal, saling membantu, dan mengajak yang lain untuk bisa mencapai puncaknya masing-masing.

satu-satunya cara untuk bangkit dari segala masalah yang sedang kita hadapi adalah berjalan, berjalan ke tempat yang lebih tinggi, semoga dengan itu kita bisa lebih arif dan lebih luas melihat masalah yang sedang kita hadapi, ketika masalah yang kita hadapi itu berat, satu-satunya cara adalah menjadikan diri kita lebih kuat untuk bisa menghadapinya, dan satu kata kunci, kalau Allah tak pernah memberikan cobaan yang tak bisa kita hadapi, tapi Allah juga tak akan mengubah nasib kita, kecuali kita yang mengubahnya. Artinya kita punya dua pilihan ketika ada masalah di depan kita, memilih untuk jadi lebih kuat, dan menaklukan masalah itu, atau menyerah dan terus menjadikan diri kita tak berdaya……..

Melihat matahari terbit dari gunung fuji, kembali mengingatkanku bahwa setiap hari baru membawa harapan baru, membawa kesempatan baru yang harus kita ambil, dan kita manfaatkan, karena tak akan pernah ada kesempatan ke dua,,,tak akan pernah ada,,,,
Maha Besar Allah yang telah menciptakan dan mendesign alam dengan begitu indah, dan begitu banyak pelajaran di dalamnya….
Semoga hamba bisa menjadi orang yang tak berhenti belajar atas semua pelajaran yang telah Engkau sisipkan dalam penciptaan alam semesta…
Amin…

Advertisements

One response to “Bukan sekedar

  1. ass..bapak syafril,apa kabar nya?blogging juga toh?mari sebarkan budaya menulis..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s